Minggu, 12 Oktober 2008

Acrobater

semampu yang tak mampu melakukan apapun
dalam kegelapan tanpa purnama
bagai mentari di malam purnama
tak mengertikah?
MENGERTIKAH?

after end of beginning
can you dare to fear?

begitu bodohnya, tak bisakah melihat kenyataan
ataukah memang sengaja tak mau melihat
ataukah? memang bodoh...
tak bijakkah yang berkata
tak mengertikah yang berkata

bolehkah membenamkan diri dalam tangis
disaat semua sedang tertawa terbahak-bahak
dapatkah seseorang menderita
disaat ia sedang amat bahagia sekali

mengertikah? tidak kau tak mengerti...

do re mi fa sol la si
berhentilah meniru apa yang nyata
berhentilah mengatakan khayalan
imajinasikah kalau begitu
ataukah mimpi

Jumat, 10 Oktober 2008

cacatan dari ekspedisi Vance Cart, hilang Jan 1868

Angin, itu deskripsi yang paling mudah untuk mengambarkan keadaan menuju gunung yang terlupakan, KunLun. Cara satu-satu yang diketahui untuk mencapai gunung tersebut adalah dengan menungangi angin. Bukan karena jauh, tapi lebih karena tinggi. Bahkan terselimuti awan tebal.
Gunung itu menyembunyikan diri sejak lama. Tapi terdapat bukti peningalan keberadaan tempat legenda itu. Adalah ingatan semua pendaki angin.
Terdiri tanah, air, api dan tentu saja angin. Dapat dikatakan angin adalah penyebab berpisahnya KunLun dan Bumi. Awan yang menutupi keberadaannya memberikan air tersegar yang mengalir turun. Dari awan ke kunlun, dari kunlun ke bumi.
Keberadaannya melindungi keberadaan setiap rahasia yang perlu disembunyikan.
Lalu apakah rahasia yang disimpan disana?
...

Kuning, Kekuningan, dan Mentari

Ingatkah, masih mengingatkah
Lentera Kekuningan dengan sinar Kunang-kunang
Menghiasi petang yang kekuningan
Pertemuan Pertama antara 2 pasang bintang

Detak jantung berhamburan
Impian mengelora silih berganti
Awan membuka gerbang mentari nan Kekuningan
Nada-nada saling bersautan bersenda gurau bergembira

sudikah Mentari itu menerangi Langit sepanjang masa?
sudikah?

tak pernah berhenti bertanya
mengenai Sinar, mengenai Arah, mengenai Kau
tidurlah saat malam, saat semua mimpi bergelimpangan
menunggu bangunnya Kau

seperti gurun menanti hujan
seperti kelelawar menanti malam
seperti serigala menunggu bulan
seperti kekasih menunggu pasangannya

begitulah Mentari menanti Sinarnya

Kamis, 09 Oktober 2008

Lontaran Kota Tua

hamparan kristal dan awan
mustika jiwa para pejuang
ingatkah mereka akan tanah kelahiran mereka?
perjuangan pada lautan merah asam
datang dan pergi

ratusan, miliaran kisah muncul
tragedi demi tragedi
tragis dan mengharukan
untaian senyum dan tangis
rangkaian aksara bersumbilah

bersandingnya percikan tanah biru
getaran dari sumber mimpi dan impian dan cita-cita
bernyanyilah, wahai sungai waktu

buih-buih kristal biru dari atas
mengiringi kedatangan malaikat pencuri hati
bagai meminum air garam, haus akan kehangatan
sakitkah ia? jatuh dari singasana
sungai menuju laut
hiasi dengan tawa pilu

kristal demi kristal bertemu, berpapasan, berjalan
dihulu bertemu dan berpisah dihilir
dunia di belakang cermin
keringat berjatuhan dari mata
lelah atas perpisahan

hembusan sinar menganti panggung
penari menari sili berganti
menukar peran menukar irama
kemilau mengelap
berakhir.....
di latar berdebu

ah, harumnya warna kelabu
menipis seiring sapuan tari
terjebak delusi idiot
para peramal masa lalu

Rabu, 08 Oktober 2008

EmerLand

musim berjalan
hujan saat kering
kering saat hujan
daun-daun berguguran

tak ada yang tertinggal
air mata tak memutarkan

angin memeluk gunung
seribu dasa pun mustahil
terus berhembus menuju utara

semilir mengikis karang
dalam legenda, semilir mengkristal
menyatu dengan karang bebatuan
itulah EmerLand, sang saksi-esa
bersatunya angin dengan gunung

karang menyatu dengan karang
itulah gunung, pada kenyataan

daun citrus dan daun baobab
menyatu dalam guguran daun
pada musimnya

Jejak Pedoman Sejarah

Purnama mencapai Sinar
dimanalah pantulan berselimut
arloji usang lari berdetak
menuju persemayaman waktu abadi

ShangRi-La, susunan langit dan bumi
manis dan segar, pusat segala keelokan
dataran, segala keinginan menjadi bentuk
yang tak terhingga...
segala penjuru melangkah menujunya
tua-muda, besar-kecil, SEGALANYA!

Namun tidak bagi
Para pemenang arus,
Yang sekali kembali,
Yang tak kembali,
dan...

Peoni yang cantik mengugurkan daun bunganya,
Pedoman Sejarah mencari bentuk
dan... memadamkan segala bentuk

mengapa?
tidak ada apa-apa

Senin, 06 Oktober 2008

melodi biru

peoni tak menabur
hati ini melembur
kedalam layar kekuningan
disana ingatan dikenang

mungkin rembulan membisu
karena tahu tak mungkin bersama
bagai condor dan pari
hanya ditakdirkan saling melirik

mengapa?

dari kertas kosong
lukisan yang indah
gadis bermata berlian
bergigi mutiara
dengan rambut hitam legam
berkulit sutra
begitu memabukan
bahkan
sang pelukis pun
konon jatuh cinta

mengapa?

 

Hit Counters
Amazing Counters