dalam 5 menit banyak hal bisa berubah
hari ini menjadi Esok
kemarin menjadi Sekarang
dalam dentungan waktu, hidup ibarat perpindahan maya
dari satu pengkondisian ke pengkondisian lainnya
benarkah kita hidup, dan benarkah ini kita
dalam 72hari tubuh kita telah sepenuhnya
tergantikan oleh sel-sel yang sepenuhnya baru
sepenuhnya baru... yang dimakan telah menjadi yang memakan
sesungguhnya manakah tubuh sejati ini?
terlepas dari semua itu keberadaan jiwa adalah sesuatu yang khalik
dan tak lepas dari keindahan dan keyakinan
bahwa itu ada dan nyata
dan tak bisa termaknai dengan kata-kata belaka
Tampilkan postingan dengan label Things to Thinks. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Things to Thinks. Tampilkan semua postingan
Kamis, 30 Desember 2010
Dentungan 5 Menit
Label:
Things to Thinks
Jumat, 19 November 2010
Eagle at Sky
Tak terasa sudah hampir 4 tahun...
Selama itu pula aku berusaha untuk mencurahkan sastra
dalam kepunjangganku yang terbatas
setidaknya sekarang aku menyadarinya
Hidup itu tidak pernah bisa diprediksi...
Apa dan Mengapa...
Dari kanak, cita-citaku selalu berubah
terus dan tak pernah sama
Begitu juga hidupku
dan Sekarang waktunya untuk berjuang
serta memanggil diriku yang hilang...
===
Lucu juga, saat aku berpikir sudahlah...
justru hasrat itu muncul..
menjadi manusia memang unik
aku kembali menulis dan entah sampai kapan
Label:
Things to Thinks
Senin, 29 Desember 2008
Benih dan Buah
Sebagaimana penyebabnya, demikian pula akibatnya. Sebagaimana benihnya, demikian pula buahnya. Sebagaimana tindakannya, demikian pula hasilnya.
Disebidang tanah yang sama, seorang petani menanam dua benih: yang satu benih tebu, yang lain benih neem, tanaman tropis yang sangat pahit. Dua benih di tanah yang sama, mendapat air yang sama, sinar matahari yang sama, udara yang sama. Alam memberi nutrisi yang sama pada keduanya. Lalu dua tanaman kecil muncul dan mulai tumbuh. Apa yang terjadi pada pohon neem? Pohon itu berkemabgn dengan rasa pahit di setiap seratnya, sedangkan tanaman tebu berkembang dengan rasa manis di setiap seratnya. Mengapa alam begitu baik pada yang satu dan begitu kejam pada yang lain?
Tidak, tidak, alam bukan baik dan bukan kejam. Alam bekerja menurut hukum yang sudah pasti. Alam hanya membantu agar sifat benih itu dapat berwujud. Semua nutrisi hanya membantu benih itu untuk mengungkapkan sifatnya yang laten di dalam dirinya. Benih tebu mempunyai sifat manis, karena itu tanamannya pun juga tak bisa lain kecuali manis. Benih neem mempunyai sifat pahit, karena itu tanamannya pun tak bisa lain kecuali pahit. Sebagaimana benihnya, demikian juga buahnya.
Si petani pergi ke pohon neem, membungkuk 3 kali, mengelilinginya 108 kali, dan kemudian mempersembahkan bunga-bungaan, dupa, lilin, buah-buahan dan manisan. Lalu ia mulai berdoa: "Oh, dewa neem, berilah aku buah mangga yang manis. Aku ingin mangga manis!" Kasihan dewa neem itu, karena ia tidak dapat memberinya. Dia tidak punya kuasa untuk memberi mangga manis. Jika seseorang ingin mangga manis, dia harus menanam benih mangga. Dengan demikian dia tak perlu menangis dan memohon bantuan dari siap pun. Buah yang akan dia peroleh tak bisa lain kecuali mangga manis. Sebagai benihnya, demikian juga buahnya.
Sulitnya, kebodohan kita menyebabkan kita selalu sembrono saat menanam benih. Kita terus menerus menanam neem. Tetapi bila sudah tiba waktunya pohon itu berbuah, kita tiba-tiba menjadi waspada dan penuh perhatian. Kita ingin mangga manis. Lalu kita terus menerus menangis dan berdoa serta mengharapkan mangga manis. Hal seperti itu tidak ada gunanya.
from: Neku
Disebidang tanah yang sama, seorang petani menanam dua benih: yang satu benih tebu, yang lain benih neem, tanaman tropis yang sangat pahit. Dua benih di tanah yang sama, mendapat air yang sama, sinar matahari yang sama, udara yang sama. Alam memberi nutrisi yang sama pada keduanya. Lalu dua tanaman kecil muncul dan mulai tumbuh. Apa yang terjadi pada pohon neem? Pohon itu berkemabgn dengan rasa pahit di setiap seratnya, sedangkan tanaman tebu berkembang dengan rasa manis di setiap seratnya. Mengapa alam begitu baik pada yang satu dan begitu kejam pada yang lain?
Tidak, tidak, alam bukan baik dan bukan kejam. Alam bekerja menurut hukum yang sudah pasti. Alam hanya membantu agar sifat benih itu dapat berwujud. Semua nutrisi hanya membantu benih itu untuk mengungkapkan sifatnya yang laten di dalam dirinya. Benih tebu mempunyai sifat manis, karena itu tanamannya pun juga tak bisa lain kecuali manis. Benih neem mempunyai sifat pahit, karena itu tanamannya pun tak bisa lain kecuali pahit. Sebagaimana benihnya, demikian juga buahnya.
Si petani pergi ke pohon neem, membungkuk 3 kali, mengelilinginya 108 kali, dan kemudian mempersembahkan bunga-bungaan, dupa, lilin, buah-buahan dan manisan. Lalu ia mulai berdoa: "Oh, dewa neem, berilah aku buah mangga yang manis. Aku ingin mangga manis!" Kasihan dewa neem itu, karena ia tidak dapat memberinya. Dia tidak punya kuasa untuk memberi mangga manis. Jika seseorang ingin mangga manis, dia harus menanam benih mangga. Dengan demikian dia tak perlu menangis dan memohon bantuan dari siap pun. Buah yang akan dia peroleh tak bisa lain kecuali mangga manis. Sebagai benihnya, demikian juga buahnya.
Sulitnya, kebodohan kita menyebabkan kita selalu sembrono saat menanam benih. Kita terus menerus menanam neem. Tetapi bila sudah tiba waktunya pohon itu berbuah, kita tiba-tiba menjadi waspada dan penuh perhatian. Kita ingin mangga manis. Lalu kita terus menerus menangis dan berdoa serta mengharapkan mangga manis. Hal seperti itu tidak ada gunanya.
from: Neku
Label:
Things to Thinks
Minggu, 15 Juni 2008
Kerikil dan Mentega
Suatu hari, dengan menangis tersedu tanpa henti seorang pemuda menghampiri Guruku. Guru bertanya:
"Mengapa engkau menangis, hai anak muda?"
"Kemarin ayah saya yang sudah tua meninggal dunia."
"Ya, apa yang bisa dilakukan? Bila dia telah meninggal, menangis tidak dapat membuatnya hidup kembali."
"Ya, hal itu saya paham. Menangis tidak akan membuat ayah saya kembali. Tetapi saya datang kemari dengan satu permohonan. Saya mohon anda melakukan sesuatu untuk ayah saya yang telah meninggal itu."
"Eh? Apa yang dapat saya lakukan untuk ayahmu yang sudah meninggal?"
"Lakukanlah sesuatu, anda adalah orang yang memiliki kekuatan. Anda pasti dapat melakukannya. Semua pendeta, pemohon ampun, dan peminta sedekah toh melakukan segala macam upacara dan ritual untuk membantu yang sudah meninggal. Begitu disini dilakukan ritual, pintu gerbang kerajaan surga akan terbuka. Lalu orang yang sudah meninggal itu diizinkan masuk. Dia memperoleh visa masuk. Sedangkan anda adalah orang yang sangat sakti! Jika anda melakukan ritual untuk ayah saya, beliau tidak akan cuma mendapat visa masuk, beliau akan terjamin bisa tinggal disana selama-lamanya. Beliau akan mendapatkan Green Card! Tolonglah, lakukan sesuatu untuknya!"
Pemuda malang itu amat dipenuhi rasa duka sehingga dia tidak dapat mengikuti argumentasi yang masuk akal. Guruku harus mengunakan cara lain untuk membuatnya paham. Maka beliau berkata: "Baiklah, Pergilah ke pasar dan belilah dua pot dari tanah." Si pemuda sangat gembira karena pikirnya guru telah setuju untuk melakukan ritual untukn ayahnya. Dia berlari ke pasar dan kembali ke dengan dua pot. "Baik," kata guru. "Isilah satu pot dengan mentega." Si pemuda melakukannya. "Isilah satunya dengan kerikil." Ini pun dilakukannya.
"Sekarang tutuplah mulut pot dan segellah dengan baik. Lalu taruh keduanya di kolam sana." Si pemuda melakukannya, dan kedua pot itu tenggelam ke dasar kolam. "Sekarang." kata guru, "ambil satu tongkat yang besar. Hantamlah pot-pot itu sampai pecah." Si pemuda merasa sangat gembira. Pikirnya, guru sedang melakukan suatu ritual untuk ayahnya.
Dengan tongkat seperti nasihat guru, pemuda itu menghantam ke dua pot itu kuat-kuat sampai pecah. Dengan segera, mentega yang diisikan ke dalam satu pot langsung muncul ke permukaaan dan mengapung di air. Kerikil di pot satnya terserak keluar tetapi tetap berada di dasar kolam. Kemudian guru berkata, "Nah, orang muda, sudah kulakukan sampai disini. Sekarang panggilah semua pendeta dan pencipta mukjizat dan suruhlah mereka mulai membaca doa untuk memohon: 'Oh, kerikil, naiklah, naiklah! Oh, mentega, turunlah, turunlah!' Akan saya lihat apa yang akan terjadi"
"Oh, anda pasti bergurau! Bagaimana itu mungkin? Kerikil lebih berat daripada air, jadi pasti tetap berada di dasar. Kerikil tidak dapat muncul ke atas. Itulah hukum alam! Mentega lebih ringan daripada air, jadi pasti tetap berada di permukaan. Mentega tidak dapat turun. Itulah hukum alam!"
"Anak muda, engaku sudah tahu banyak tentang hukum alam, tetapi belum memahami hukum alam ini: jika sepanjang hidupnya ayahmu melakukan perbuatan-perbuatan yang berat seperti kerikil, dia pasti turun; siapa yang bisa menaikkannya? Dan jika semua tindakannya ringan seperti mentenga, dia pasti naik; siapa yang bisa menariknya turun?"
Semakin dini kita memahami hukum alam dan mulai hidup sesuai hukum itu, semakin cepat kita keluar dari penderitaan kita.
"Mengapa engkau menangis, hai anak muda?"
"Kemarin ayah saya yang sudah tua meninggal dunia."
"Ya, apa yang bisa dilakukan? Bila dia telah meninggal, menangis tidak dapat membuatnya hidup kembali."
"Ya, hal itu saya paham. Menangis tidak akan membuat ayah saya kembali. Tetapi saya datang kemari dengan satu permohonan. Saya mohon anda melakukan sesuatu untuk ayah saya yang telah meninggal itu."
"Eh? Apa yang dapat saya lakukan untuk ayahmu yang sudah meninggal?"
"Lakukanlah sesuatu, anda adalah orang yang memiliki kekuatan. Anda pasti dapat melakukannya. Semua pendeta, pemohon ampun, dan peminta sedekah toh melakukan segala macam upacara dan ritual untuk membantu yang sudah meninggal. Begitu disini dilakukan ritual, pintu gerbang kerajaan surga akan terbuka. Lalu orang yang sudah meninggal itu diizinkan masuk. Dia memperoleh visa masuk. Sedangkan anda adalah orang yang sangat sakti! Jika anda melakukan ritual untuk ayah saya, beliau tidak akan cuma mendapat visa masuk, beliau akan terjamin bisa tinggal disana selama-lamanya. Beliau akan mendapatkan Green Card! Tolonglah, lakukan sesuatu untuknya!"
Pemuda malang itu amat dipenuhi rasa duka sehingga dia tidak dapat mengikuti argumentasi yang masuk akal. Guruku harus mengunakan cara lain untuk membuatnya paham. Maka beliau berkata: "Baiklah, Pergilah ke pasar dan belilah dua pot dari tanah." Si pemuda sangat gembira karena pikirnya guru telah setuju untuk melakukan ritual untukn ayahnya. Dia berlari ke pasar dan kembali ke dengan dua pot. "Baik," kata guru. "Isilah satu pot dengan mentega." Si pemuda melakukannya. "Isilah satunya dengan kerikil." Ini pun dilakukannya.
"Sekarang tutuplah mulut pot dan segellah dengan baik. Lalu taruh keduanya di kolam sana." Si pemuda melakukannya, dan kedua pot itu tenggelam ke dasar kolam. "Sekarang." kata guru, "ambil satu tongkat yang besar. Hantamlah pot-pot itu sampai pecah." Si pemuda merasa sangat gembira. Pikirnya, guru sedang melakukan suatu ritual untuk ayahnya.
Dengan tongkat seperti nasihat guru, pemuda itu menghantam ke dua pot itu kuat-kuat sampai pecah. Dengan segera, mentega yang diisikan ke dalam satu pot langsung muncul ke permukaaan dan mengapung di air. Kerikil di pot satnya terserak keluar tetapi tetap berada di dasar kolam. Kemudian guru berkata, "Nah, orang muda, sudah kulakukan sampai disini. Sekarang panggilah semua pendeta dan pencipta mukjizat dan suruhlah mereka mulai membaca doa untuk memohon: 'Oh, kerikil, naiklah, naiklah! Oh, mentega, turunlah, turunlah!' Akan saya lihat apa yang akan terjadi"
"Oh, anda pasti bergurau! Bagaimana itu mungkin? Kerikil lebih berat daripada air, jadi pasti tetap berada di dasar. Kerikil tidak dapat muncul ke atas. Itulah hukum alam! Mentega lebih ringan daripada air, jadi pasti tetap berada di permukaan. Mentega tidak dapat turun. Itulah hukum alam!"
"Anak muda, engaku sudah tahu banyak tentang hukum alam, tetapi belum memahami hukum alam ini: jika sepanjang hidupnya ayahmu melakukan perbuatan-perbuatan yang berat seperti kerikil, dia pasti turun; siapa yang bisa menaikkannya? Dan jika semua tindakannya ringan seperti mentenga, dia pasti naik; siapa yang bisa menariknya turun?"
Semakin dini kita memahami hukum alam dan mulai hidup sesuai hukum itu, semakin cepat kita keluar dari penderitaan kita.
Label:
Things to Thinks
Sabtu, 30 Desember 2006
Mengisi Botol Minyak
Seorang ibu memberi anaknya sebuah botol kosong dan uang sepuluh ribu untuk membeli minyak di toko yang tak jauh dari rumahnya. Anak itu pergi dan membeli minyak sebotol penuh. Tetapi ketika kembali, dia terjatuh dan botol itu pun ikut jatuh. Pada waktu dia mengambilnya, separuh minyak sudah tumpah. Ketika mengetahui botol itu telah separuh kosong, dia pulang ke ibunya dengan menangis, "O... saya kehilangan minyak setengah botol! Saya kehilangan minyak setengah botol." Dia sangat tidak bahagia.
Ibu itu memberi anaknya yang lain sebuah botol dan uang lagi. Anak itu juga membeli minyak sebotol penuh. Dalam perjalanan pulang dia pun terjatuh dan menumpahkan minyaknya. Sekali lagi separuh minyak itu tumpah. Dia memungut botol itu, lalu pulang dengan sangat bahagia. "O... lihat, saya menyelamatkan separuh minyak! Botol tadi jatuh dan sebenarnya dapat saja pecah. Minyaknya tumpah dan sebenarnya bisa saja semuanya tumpah. Tetapi saya telah menyelamatkan separuh minyak!" Keduanya mendatangi ibunya dengan posisi yang sama, dengan botol separuh kosong, separuh penuh. Yang satu menangisi botol yan setengah kosong, yang lain bahagia dengan bagian yang berisi.
Kemudian ibu itu memberi anaknya yang lain sebuah botol dan uang lagi. Dia juga terjatuh dalam perjalanan pulang dan menumpahkan minyaknya. Separuh minyak tumpah. Anak itu memungut botol itu, dan seperti anak ke dua dia mendatangi ibunya dengan sangat bahagia: "Ibu, saya menyelamatkan separuh minyak!" Tetapi anak ini adalah anak Vipassana, yang tidak hanya penuh dengan optimisme tetapi juga dengan realisme. Dia memahami, "Yah, separuh minya memang selamat, tetapi separuhnya hilang." Maka dia berkata kepada ibunya, "Sekarang saya akan pergi ke pasar, bekerja keras sepanjang hari agar mendapatkan lima ribu, dan membeli minyak setengah botol. Sore nanti saya akan memenuhi botol itu." Inilah Vipassana. Tidak ada peisimisme, melainkan sebaliknya: optimisme, realisme, dan "kerja-isme"!
from Neku
Ibu itu memberi anaknya yang lain sebuah botol dan uang lagi. Anak itu juga membeli minyak sebotol penuh. Dalam perjalanan pulang dia pun terjatuh dan menumpahkan minyaknya. Sekali lagi separuh minyak itu tumpah. Dia memungut botol itu, lalu pulang dengan sangat bahagia. "O... lihat, saya menyelamatkan separuh minyak! Botol tadi jatuh dan sebenarnya dapat saja pecah. Minyaknya tumpah dan sebenarnya bisa saja semuanya tumpah. Tetapi saya telah menyelamatkan separuh minyak!" Keduanya mendatangi ibunya dengan posisi yang sama, dengan botol separuh kosong, separuh penuh. Yang satu menangisi botol yan setengah kosong, yang lain bahagia dengan bagian yang berisi.
Kemudian ibu itu memberi anaknya yang lain sebuah botol dan uang lagi. Dia juga terjatuh dalam perjalanan pulang dan menumpahkan minyaknya. Separuh minyak tumpah. Anak itu memungut botol itu, dan seperti anak ke dua dia mendatangi ibunya dengan sangat bahagia: "Ibu, saya menyelamatkan separuh minyak!" Tetapi anak ini adalah anak Vipassana, yang tidak hanya penuh dengan optimisme tetapi juga dengan realisme. Dia memahami, "Yah, separuh minya memang selamat, tetapi separuhnya hilang." Maka dia berkata kepada ibunya, "Sekarang saya akan pergi ke pasar, bekerja keras sepanjang hari agar mendapatkan lima ribu, dan membeli minyak setengah botol. Sore nanti saya akan memenuhi botol itu." Inilah Vipassana. Tidak ada peisimisme, melainkan sebaliknya: optimisme, realisme, dan "kerja-isme"!
from Neku
Label:
Things to Thinks
Langganan:
Postingan (Atom)
