Selasa, 21 Juni 2011

Mabuk

aku tahu...
dia tak cantik, tidak pintar, tidak sexy, bahkan menarik
tapi aku jatuh cinta padanya
seperti orang frustasi yang mencoba mengejar hal tak bernilai
sahabatku sudah memberitahuku, bahwa ia tak bernilai untuk dikejar
bahkan akupun sudah tahu hal itu sedari awal
dia tak layak untukku

socrates... seperti biasa
pernah berkata bahwa proses berpikir manusia itu ibarat
kereta kuda yang ditarik dua ekor kuda
yang satu kuda rasionalitas
yang satu kuda emosinalitas

rasional mudah dikendalikan tapi tak memiliki tenaga yang besar
sedangkan emosi sulit dikendalikan tapi memiliki tenaga yang besar
membunuh emosi jelas tak mungkin
mengendalikannya adalah keharusan

bila manusia hanya hewan saja, tentu tak masalah
menuruti emosi semata
tapi kita bukan... maka keputusan berdasarkan emosi saja
itu adalah ketololan yang tak dapat dibenarkan
camkan itu... wahai diriku yang sedang mabuk cinta

Jumat, 01 April 2011

Jalan Terjal dan Tebing Curam

Keduanya... bukan jalan yang mudah
sama-sama terjal dan berliku
melelahkan bagai tanpa ujung

yang satu mengarah ketempat
yang diinginkan orang yang kusayang
satu lagi ketempat...
yang kuinginkan

bukan pilihan yang mudah
karena dijalan mana pun
yang ada hanya penderitaan

tapi... ditempat yang kuinginkan itu
ada satu hal yang pasti bisa kupelajari
yaitu... peleburan

Minggu, 02 Januari 2011

New Years and...

Bagaikan Nafas berganti
masuk dan keluar

Seperti Angin selalu bergerak
dari dingin ke panas

Begitu pun waktu
dari masa lalu ke masa depan

Waktu berganti
membawa aliran yang fana

Manakah yang disebut kehidupan?

Kamis, 30 Desember 2010

Dentungan 5 Menit

dalam 5 menit banyak hal bisa berubah
hari ini menjadi Esok
kemarin menjadi Sekarang

dalam dentungan waktu, hidup ibarat perpindahan maya
dari satu pengkondisian ke pengkondisian lainnya
benarkah kita hidup, dan benarkah ini kita

dalam 72hari tubuh kita telah sepenuhnya
tergantikan oleh sel-sel yang sepenuhnya baru
sepenuhnya baru... yang dimakan telah menjadi yang memakan
sesungguhnya manakah tubuh sejati ini?

terlepas dari semua itu keberadaan jiwa adalah sesuatu yang khalik
dan tak lepas dari keindahan dan keyakinan
bahwa itu ada dan nyata

dan tak bisa termaknai dengan kata-kata belaka

Jumat, 19 November 2010

Eagle at Sky

Tak terasa sudah hampir 4 tahun...
Selama itu pula aku berusaha untuk mencurahkan sastra
dalam kepunjangganku yang terbatas
setidaknya sekarang aku menyadarinya

Hidup itu tidak pernah bisa diprediksi...
Apa dan Mengapa...

Dari kanak, cita-citaku selalu berubah
terus dan tak pernah sama
Begitu juga hidupku

dan Sekarang waktunya untuk berjuang
serta memanggil diriku yang hilang...

===

Lucu juga, saat aku berpikir sudahlah...
justru hasrat itu muncul..
menjadi manusia memang unik
aku kembali menulis dan entah sampai kapan

Kamis, 12 Agustus 2010

Lantunan Mabuk

tidak berseri, tidak muram
pikiran ini serasa membusur
menyesali akan waktu yang terbuang
untuk salam perpisahan

menulis puisi mabuk
sesal kekal karena tak sampai

memandang dengan bingung dalam payung kertas
dibawah teduhnya langit dengan awan
menyembunyikan cinta

senyum tidak dapat menyembunyikan malam
jawabannya yang mengigit dari kehangatan

bagai melukis diatas kanvas api
menunggu untuk membenci cinta
ingin memeluk detik-detik terakhir

mengapa, sayang?
mati adalah hal yang kulakukan disaat akhir.
mengapa?

Rabu, 04 Agustus 2010

IV.03. Waktu yang telah Berlalu

Lans Fyonds - Part 4.03

Spring 12, Kura-Kura Api

Semerbak wangi rerumputan yang tersirami mentari pagi berbaur dengan aroma embun. Burung-burung liar bermain di atas rerumputan, sesekali menukik, sesekali meliuk, sesekali menari dengan indah. Suara kicau riang yang begitu ribut, menyambut hari yang baru. Seakan tidak mempedulikan masa lalu ataupun masa depan.

Daerah ini sendiri dinamakan Wumheag oleh penduduk sekitar, bila musim panas tiba, para petani dari lembah akan datang dan bercocok tanam hingga musim gugur, selebihnya tempat ini kosong dan diterlantar begitu saja oleh penduduk sekitar.

Pada musim lainnnya, Wumheag hanya sesekali dilewati para kafilah yang berpergiaan antara Dax'en dan ShangRi.

Sosok-sosok manusia disertai suara percakapan terdengar dari arah Barat. Arah dimana kota Dax'en berada.

"Ayo, kita baru bisa mencapai ShangRi dalam sebulan kalau kalian lemas begitu.", Bapak berkumis jarang itu mencoba menyemangati keluarganya. Istrinya diam, tapi tampak dari raut mukanya ia kelelahan. Lelaki kekar yang berada dibelakang dengan berusaha tersenyum, sambil menuntun kuda-kuda mereka yang sudah lemas tersengat matahari gunung sambil menyeret kereta barang. Anaknya duduk diatas salah satu kuda, duduk lesu kelelahan, sambil memandang sekitar.

"Yah, tempat ini sepi sekali.. Aku ingin makan..", seru bocah itu memandang ayahnya yang berjalan di depan.

Ayahnya, menjawab dalam lelah untuk meladeninya, "Tidak lama lagi, Edward. Keluarga Walter harus memiliki kesabaran. Liat Phil, dia sama sekali tidak mengerutu terus sepertimu."

Edward hanya bisa terdiam lesu mendengar itu.

Perjalanan mereka berlanjut, dataran yang dipenuhi rumput yang hijau. Kicau burung dan suara serangga musim semi memenuhi telingga mereka.

Langit mulai mengelap saat mereka menemukan kedai.
"HA!! Yah, itu ada kedai!! Aku ingin makan pasta..", Edward begitu bersemangat saat melihat kedai itu.
"Iya, Iya.. kita akan kesana."
Raut wajah Phil mendadak muram, dan ia segera menghampiri Ayah Edward dan berbisik pelan.
Mendengar bisikan Phil, Dahi Hix mengerenyit berpikir.. lalu berkata
"Rasanya tidak, daerah ini tergolong aman, Phil."

Mereka masuk ke kedai itu, memesan makanan dan minuman.
Orang-orang di kedai itu tampak begitu garang dan buas saat melihat mereka. Luka dan Tatto berceceran ditubuh mereka.
Pemilik kedai itu, tampak pasrah terhadap pelanggan-pelanggan mereka yang bertampang bajingan itu.

Phil berbisik pada Hix, lalu sesekali Hix mengangguk sebagai tanda setuju.

Setelah selesai dari makan dan minum, lalu membayar hidangan, mereka segera bergegas pergi dari kedai itu. Langkah mereka begitu cepat, seperti dikejar setan. Edward dan Istri Hix tertidur diatas Kuda. Sementara Hix dan Phil memacu kuda mereka yang sudah makan dan beristirahat itu. Kereta barang berdentang kuat mengikuti irama kuda-kuda itu.

Mereka terus memacu sampai perbatasan Wumheag dan ShangRi. Udara mendingin, dan hujan rintik-rintik khas musim semi berjatuhan ditengah gelapnya malam. Kicau burung tidak terdengar lagi, sebagai gantinya suara lolongan serigala di kejauhan.

Mendadak, seiring bunyi desingan kuda-kuda mereka satu persatu roboh dan tersungkur. Serangkaian anak panah, menghujani mereka. Gerombolan yang datang dari kegelapan menghujan mereka dari berbagai arah.
Phil terpanah di kaki, segera mengambil tombak dan melawan. Hix berteriak histeris melihat istrinya terpanah di dada sambil merangkul Edward. Hix yang mengila, mengambil tombak dan melemparkannya ke arah sosok-sosok dalam gelap itu. Bersamaan dengan menusuknya panah itu ke salah seorang dari sosok-sosok itu, Hix jatuh terurai darah akibat hujanan tombak dan panah.
Phil yang kuat pun sudah terengah-engah.. nafasnya yang semakin pendek, tapi kekuataannya membuat ia belum terkalahkan. Mendadak hujan panah menghujaninya dari sampingnya... lalu ia Roboh.

Edward.. bocah malang itu, menyaksikan semua itu.
Mendengar desingan panah, peluh kesakitan, dan hujan darah.
Sebagai putra saudagar miskin, dikala masih berumur 5tahun, ia sudah banyak menjalani hidup susah. Waktu temannya bermain, ia membantu orang tuanya. Waktu temannya belajar, ia berjualan dipinggir jalan. Seakan segala kesulitan itu tidak cukup.
Saat ini diusianya yang baru beranjak 10 tahun, ia harus kehilangan semua anggota keluarganya. Hix, ayahnya yang sabar. Teglar, ibunya yang rewel padanya. Dan Phil, anak buah ayahnya, sekaligus teman dekatnya.

Sosok-sosok penyamun dengan tawa bengis semakin mendekat padanya. Pandangan matanya mengelap karena ketakutan.. Ia menangis, dan ketakutan..

"Hujan...
Hujan Tangis,
Hujan Darah,
Sesungguhnya apa itu Kehidupan?

Disaat semua tertawa mengapa hanya aku yang menangis?
Apakah ada yang dinamakan kebahagiaan di dunia ini?

Hujan tangis, Air mata berlinang
Hujan darah, bersamaan dengan robohnya Kenangan..."

Suara itu mengema, dalam gelapnya pandangan Edward kecil.
Dalam gema suara itu, terdengar jeritan-jeritan.
Ledakan, dan Suara angin yang bergemuruh entah sedih atau marah..
...

Mentari meninggi, penduduk sekitar ShangRi berkerumun di perbatasan. Penuh tanda tanya akan suara gemuruh semalam. Terkejutlah mereka akan hal yang mereka lihat, onggokan puluhan mayat manusia yang tercerai berai, terpotong dengan rapi, sayatan sempurna dalam seribu arah. Membuat mayat tersebut tidak terkenali lagi bentuknya. Hanya mayat Hix, Teglar, dan Phil yang masih tergeletak rapi penuh luka dan anak panah.
Di pinggir mayat kuda, mengigil Edward dengan badannya yang panas demam.

Satu persatu dari mereka mulai bersuara dan memberi pendapat

"Mayat yang terurai tampaknya mayat para penyamun gunung."

"Bocah ini entah sial atau beruntung? Hidup tapi sebatang kara.."

"Tapi bocah ini juga terluka, terdapat anak panah diperutnya."

"Mayat-mayat ini bukan tersayat oleh pedang, tapi angin... dan mereka tersayat bersamaan"

"Angin? Pengendali Anginkah? Tapi sayatan serapi ini, hanya satu orang yang bisa.."

"...Fyonds!! Lans Fyonds!! Hanya dia yang bisa melakukan sayatan ini.."

"Bocah itu, bocah itu pasti melihat rupanya, cepat selamatkan dia, bawa dia ke balai pengobatan!"

"Cepat...!!!"

Penduduk ShangRi, membawa Edward ke ShangRi, mengobatinya, berharap ia bisa mencari Fyonds. Legenda yang hilang dari dunia ini. Untuk membawa keselamatan bagi dunia.

Edward sebatang kara, atas usulan kumulatif para penduduk ShangRi, dimasukkannya ia ke perguruan setempat. Dengan tujuan, mempersiapkannya untuk mencari Legenda yang hilang itu..

bersambung...

Kamis, 22 Juli 2010

Quantum Infinite Dialetika

Biarpun dikatakan sebagai Intuisi dan Ingatan batin, sesungguhnya pemikiran yang simpel itu tidak lebih dari input monolog yang tidak jelas pusarannya. Kecepatan dan Waktu, dua hal itu sering diperdebatkan, diperbincangkan, sekali lagi tanpa kejelasan manufaksi keberadaan.

Misalkan pusaran A adalah kuantum Tetra yang memiliki fusi kinetik Ether Gamma. Maka pusaran A pasti dianggap sebagai pusaran awal yang memiliki basis hitungan kuartal 60tahun/arrow.

Jika hal ini dibandingkan dengan realism, setidaknya filsafat realism yang digubris oleh Adam Standler, pusaran tersebut akan diperdebatkan setidaknya dari 108 sudut pemikiran. Untuk ditelah keberadaannya apakah nyata atau tidak, apakah benar atau tidak, apakah kekal atau tidak.

Bagaimanapun, seluruh pengetahuan, entah metafisika, entah ekonomi belaka. Sesungguhnya itu semua berbasis pada keberadaan dan pengakuan akan adanya Hukum Ketidakkekalan. Sedangkan yang dicari dari berbagai pengambungan fusi seluruh ilmu pengetahuan hanyalah keabadian/ kekekalan. Sesungguhnya kenyataan itu adalah ironis dan menyedihkan.

Bagaimana mungkin dari sesuatu yang tidak kekal menghasilkan kekekalan?
Ilmu agama, membasiskan pada dasar kekekalan terlebih dahulu, kemudian diturunkan menuju "down to earth" menjadi ketidakkekalan. Mengesampingkan segala permasalahan atas ketidakkekalan dengan impian akan kekekalan.
Ilmu pengetahuan scientific, tidak berarti jauh berbeda. Sama, mencari kekekalan berbasis pada segala hal yang tidak kekekal didunia ini.

Pertanyaan dari substansisasi infinite adalah limit consigentif kah? tidak ada yang pernah berhasil menjawab secara tegas. Tapi semua seolah dengan tolol menganggap ketidakkekalan adalah bagian dari kekekalan.

Hukum kekekalan energi setidaknya pernah menjadi utopia. Pemikiran tranvender fundamentalis manusia. Sayangnya saat ditelusuri, sebenarnya yang terjadi adalah kekekalan energi perubahan.

Mengutip Wilder dalam pemikiran Kongnasifikasi, 25:90. Bukankah itu adalah suatu kesalahan?
Bahwa yang terakhir bisa dipakai adalah dialetika. Sebuah pencapaian akan kesadaran melalui pengalaman.

Minggu, 20 Juni 2010

tanpa Alasan

sepanjang kabut kekuningan
apakah ada yang cukup menarik
lalu menjadi alasan untuk hidup
untuk 1000 tahun dan lebih

selain tanggung jawab

bila itu sudah selesai peran ini
izinkan, keluar dari perlombaan

apakah ada akhir?
bila ada kapan?

Jumat, 02 April 2010

IV.02. Rantai Masa Lalu

Lans Fyonds - Part 4.02

Fall 18, Serigala Air


Musim telah berganti, dua bulan sudah terlewati. Namun baik Lans Edworld tidak satu langkah pun keluar dari negeri Stin Ygeia, bahkan keluar dari kota Waltz pun tidak. Tampak sang pelaksana misi tertidur di sebuah losmen. Begitu nyenyak, sampai orang selewat pun bisa menerka, sudah berminggu-minggu ia tidak terbangun. Edworld, menengelamkan dirinya kedalam mimpi yang terdalam.

Sebaliknya, sang pengawal, Maxwell, sejak 2 minggu lalu meninggalkan tuannya. Menurut pemilik losmen, ia menitipkan tuannya kepada dirinya. Semata-mata agar dirinya bisa, mencari informasi tentang keberadaan Lans Fyonds. "Daripada menunggui orang tidur, lebih baik aku mencari informasi.", itu perkataan yang Max yang diingat oleh pemilik kos itu.

Pemilik losmen itu sebenarnya tidak terlalu suka dengan keberadaan mereka berdua. Namun karena mereka diberikan misi itu (Pencarian Lans Fyonds), ia pun tidak bisa memilih. Lagi pula keberadaan Fyonds, akan sangat penting bagi negeri itu, dikemudian hari menurutnya. Bagaimanapun, ia hanyalah perempuan tua yang gemuk, namun dibalik itu semua.. ia pun menyimpan harapan pada sosok Fyonds.

===

Ternyata diluar perkiraan, Max pun menganti tujuan perjalanan itu, dari mencari Fyonds sampai akhirnya berusaha mengenal tuannya lebih jauh. Hal itu dikarenakan, keberadaan Fyonds sendiri ternyata lebih sulit dari menemukan Malaikat di Neraka.
Menelisik dan Menyusuri jejak awal keberadaan Edworld, itulah yang akhirnya dilakukan Max. Ia menuju Shang-Ri, perguruan tempat Edworld belajar. Perjalanan itu ia tempuh dalam 3hari, dengan menaiki kuda dan kereta uap.
Shang-Ri sendiri sebuah perguruan di sebuah lembah, untuk mendatanginya harus terlebih dahulu mendaki bukit baru kemudian menuruni bukit. Tempat ini begitu hijau, hijau karena dedaunan. Wangi tempat ini pun semerbak dikarenakan banyaknya bunga, air terjun Charcalt berada di barat perguruan. Tempat ini sangatlah alam dan asri.

Esoknya, setelah menginap semalam di penginapan umum perguruan. Max langsung mencari segala info tentang Edworld. Ia menanyakan ke berbagai orang. Dari Guru hingga Master. Dari murid hingga taruna. Dari ujung ke ujung, tampaknya hampir tidak ada tempat yang memiliki keramaian yang tidak ia tanyakan. Semangatnya untuk mengumpulkan informasi sungguhlah luar biasa. Namun hasilnya sungguh mengecewakan, dibanding memuaskan.

"Huff.. rasanya sudah semua tempat pengajaran kutanyai. Tapi mendengar nama Edworld pun tidak ada yang pernah.", guman Max dengan wajahnya yang putus asa.

Akhirnya ditengah keputusasaannya itu, ia masuk ke perpustakaan perguruan. Ia berniat mencari informasi dari kumpulan buku yang ada, berharap siapa tahu.. ada sedikit informasi tentang tuannya itu, tuan yang aneh itu. Ditengah kumpulan buku itu, ia tertidur kelelahan. Dan saat menjelang malam, ia dibangunkan oleh penjaga pustaka. Heran melihat orang asing yang tidak pernah sebelumnya ia jumpai. Pustakawan itu bertanya pada Max tentang apa yang ia cari.
"Lans Edworld, aku mencari informasi tentang orang ini..", begitu balas Max, sambil terus membuka halaman demi halaman buku yang ada didepannya.
"Edworld? Apa yang kau maksud, pria yang berambut hitam legam dan mata yang tampak selalu mengantuk?", tanya pustakawan itu
"...ah, iya dia yang kucari. Apa anda memiliki informasi tentangnya?", matanya melepas pandangan dari buku-buku. Tampak kelelahan, tapi sedikit senang karena ada informasi biarpun misalkan hanya sedikit.

...

Dari informasi pustakawan itu, Max mengetahui 2hal. Pertama, Edworld sering membolos untuk tidur di perpustakaan ini. Dan kedua, informasi yang jauh lebih bernilai adalah tempat tinggal Edworld selama diperguruan ini, sekaligus teman sekamarnya.
Bergegas, Max menuju pondok-pondok kayu di kompleks murid-murid perguruan. Bulan telah muncul saat Max, mendapati pondok tempat Edworld tinggal. Setelah beberapa ketukan, pintu dibuka, dan menyembul muka yang lelaki yang gemuk.

Setelah saling berkenalan, mereka memulai berbincang. Max tampaknya berupaya sekali mendapatkan informasi tentang Ed. Tapi Rachmond, tampaknya hanya punya sedikit info tentang Ed. Selain mengkategorikan Ed sebagai orang yang malas dan cuek. Rachmond hanya bisa bercerita tentang kisah cinta Edworld. Itu pun tampaknya hanya sebatas yang ia dengar. Sedikit sekali.

Dari cerita Rachmond, Max menyimpulkan terdapat tiga gadis yang pernah memiliki hubungan khusus bagi Edworld. Cerita Rachmond sebenarnya amatlah membingungkan, karena cara ia bercerita sangatlah tidak berpola, logikanya pun melompat-lompat. Sehingga, Max terus melakukan fokus topik, agar ceritanya tidak tentang makanan yang akan dimakannya saat tidak lapar, ataupun cara membuang sampah yang anggun.

Gadis pertama adalah Nivanna Starr, ia adalah putri dari raja, kecantikannya tidak disangkal. Matanya indah, dan jernih, rambutnya hitam legam, dan begitu feminim serta anggun. Max, dapat mendeskripsikan semua hal itu dalam sekilas pandang, dari foto Nivanna. Namun untuk ukuran tinggi badan, ia tidaklah tinggi, tapi berat badannya membuat ukurannya proposional. Dari cerita Rachmond, diketahui bahwa cinta Ed kepadanya hanya sebatas kata-kata, yang tidak pernah terlaksana dalam tindakan ataupun ucapan. Mereka pernah bertegur sapa, namun.. sebatas itu juga yang paling jauh.

Max, hanya bisa tersenyum mendengar penuturan Rach mengenai Nivanna dan Ed.

Lynne Adle adalah gadis kedua, begitulah Rachmond menuturkannya. Dari foto Gadis ini sesungguhnya tidak cantik, biasa saja tapi sensual. Tipe gadis pengoda, bila melihat gayanya yang seronok. Kisah mereka, dimulai dari Adle yang mulai mendekati Ed, Ed sesungguhnya tidak pernah meliriknya pada awalnya. Namun, disaat Ed sudah mulai terbuai dalam perasaannya, dan mulai mencoba menerka-nerka apa itu cinta. Adle sudah menjauh pergi dan mengoda lelaki lain. "Hahaha, sungguh ironis bukan?", tawa Rachmond sehabis menceritakan secara panjang dan lebar.

"Namun, sesungguhnya gadis yang bisa disebut pernah berada di hati Ed, hanya Kai Yin (恺阴). Dia bukanlah putri ataupun pengoda.", tutur Rach memulai mengkisahkan. Foto dimana Ed bersama Yin cukuplah banyak, dan bila dilihat tampaknya mereka adalah pasangan yang cocok. Yin tidak secantik Nivanna. Juga tidak seanti-klimaks Adle. Namun kisah keduanya tidak pula berujung indah.
"Dia adalah gadis yang tidak bisa mendengar apa kata hati, dan perasaannya. Terlalu banyak mendengar perkataan orang tentang Edworld. Ed adalah pemalaslah, pembangkanglah, atau bermasa depan sampah.. Akhirnya, pilihannya menghancurkan kehidupan keduanya. Mungkin, andai Yin memilih Ed. Yin akan menemukan pria yang bisa ia andalkan. Dan Ed pun akan bangkit... bagaimanapun ia adalah satu-satunya pria yang diakui oleh Er Zhang.."
Max tampak terkejut mendengar nama Er Zhang sehingga langsung memotong pembicaraan,"Er Zhang? Taruna Terbaik Shang-Ri yang mampu pernah menembak jatuh 9 Matahari? Ed diakui olehnya? Bukankah anda bilang, Ed hanyalah orang yang sangat payah?"
"Ho..Ho.. Ed memang payah, dan tak berguna. Setidaknya itu yang ditunjukan dia saat berhadapan dengan kita. Aku pun sesungguhnya tidak tahu, mengapa Er Zhang mengakui keberadaan Ed. Mungkin bila kau ada kesempatan bertemu Er Zhang. Kau bisa bertanya padanya. Sebab, dia adalah salah satu dari segelintir orang yang mengakui keberadaan Ed. Bila kau begitu tertarik pada Ed. Bahkan ketiga wanita itu pun, tidak tahu kemampuan Ed sebenarnya, begitu juga denganku. .. Hanya itulah yang kutahu tentang Ed.", Rach mengakhiri pembicaraan, dan mempersilahkan Max keluar pondoknya. Mereka pun berpamitan.

Hari telah begitu gelap dan cahaya yang ada hanya berasal bulan yang tertutup awan.

bersambung...

Sabtu, 20 Maret 2010

IV.01. Takdir dan Pertemuan

Lans Fyonds - Part 4.01

Cacatan Maxwell

Summer, 5 Serigala Air

Mulai hari ini.. aku akan mengemban misi besar. Hmm... Seumur-umur sebagai assist yang bisa dikatakan lebih banyak gagal ketimbang berhasil, sesungguhnya mendapat tugas Rank 1 itu mustahil.
Sulit, itu sudah pasti. Mendampingi Lans Edworld yang mendengar namanya pun tak pernah, untuk menemukan manusia setengah dewata, Lans Fyonds. Sang pewaris kesaktian kaisar Tang..
Kesaktian yang luar biasa, bahkan untuk ukuran dewata. Tanpa sadar kugumankan lantunan syair tentang kaisar Tang.

Ditembak panah, tubuhnya Mengeras
Dikejar kuda, akan lebih cepat dari kuda


Sungguh kesaktian dewata...

Bangun di hari besar lebih merupakan penantian yang panjang, sebab sesungguhnya aku tidak bisa tidur menanti hari ini. Dengan mata yang masih mengantuk karena tidak tidur. Aku menuju Hall of Task, sambil bercakap dengan Natsu, aku menyelediki siapakah gerangan Lans Edworld itu.
Ternyata orangnya tidak seperti bayanganku, tampak terlalu lemah untuk orang yang mengemban misi sebesar ini. Ah, jangan-jangan, dia memiliki kesaktian berpikir atau kesaktian tinggi apa pun itu... Haha, mana mungkin orang rendah mendapat misi kelas atas ini. Mencari Lans Fyonds itu, ibarat mencari keabadiaan, nyawa boleh jadi taruhan, sebab saat bertemu L.Fyonds. Bukan tidak mungkin akan terlebih pertarungan fisik dan kesaktian yang mengorbankan jiwa dan raga.
Namun, belum selesai aku berpikir panjang. Natsu membisikiku, "Setauku, Edworld.. adalah mahkluk yang bermasalah. Dan tidak memiliki kemampuan. Satu-satunya alasan dipilihnya dirinya untuk menemukan Fyonds, adalah karena dia satu-satunya saksi hidup keberadaan Fyonds. Yang oleh dirinya sendiri, ia ingkari."
Mendengar perkataan seperti itu, pikiranku mulai menerawang pada perjalanan yang akan sangat merepotkan dan melelahkan. Ah, sungguh berat... tapi itu satu-satunya cara untuk memulihkan reputasi burukku. Haha...

Kecepatan waktu itu relatif, dan tampaknya menunggu membuat waktu berdetak lebih lama. Menunggu pengesahan misi, membuatku tegang dan lelah. Pikiran berkelana, Hati bergetar... Mungkin karena ini misi besar pertamaku.

"Lans Edworld!!" Itu yang kutunggu, nama dari orang yang akan menjadi atasanku selama misi nanti. Dari barisan paling belakang, berdiri pria yang terlihat mengantuk dan tak bersemangat. Maju dan mengambil "Surat Perintah" dengan ekspresi malas dan mengeluh.

Tuan Salem selaku Ketua Perguruan berkata padanya, "Misi ini bagaimanapun adalah misi yang sulit. Karena itu, kau memiliki waktu yang tak terbatas untuk menuaikannya. Tapi setidaknya selesaikan sebelum kau mati."
"Bagaimanapun tuan Salem.. misi ini adalah lelucon bukan?", balas Edworld sambil menyeringai ngantuk.
Mereka hanya bertukar pandang, kemudian Edworld pergi ke pintu keluar perguruan. Dan tampaknya ia berencana menjalankan misi ini segera.

Terbangun dari lamunan, aku langsung bergegas mengejarnya. 'Sungguh mengherankan dia itu, tidak mencari assistennya dulu tapi langsung bergegas pergi.. aku tak mengerti apa yang membuat ia begitu terburu-buru'
Tak berapa lama aku berhasil mengejarnya, "Tuan Lans Edworld tunggu sebentar, saya Maxwell Odeous yang akan menjadi assisten anda. Apa anda tidak tahu anda mendapat pengawalan saya?"
Langkahnya berhenti, dan ia memandangku dengan mata ngantuknya. Kemudian ia berkata, "Dengan atau tanpa pengawalan.. misi ini adalah lelucon. Memang kau pikir aku mau kemana?"
"Mencari Lans Fyonds, tuan" balasku
"Hahaha... Lans Fyonds? Keberadaan orang itu lebih merupakan lelucon antar generasi yang ditumpukkan keberadaanya kepada saya, Lans Edworld. Secara logis maupun deduktif, keberadaanya hanyalah hikayat. Jadi yang saya mau lakukan sekarang adalah tidur! Bukan mencari hal yang tidak ada. Tidak mengertikah kau?"
"Tuan, bagaimanapun memang keberadaan Lans Fyonds begitu tipis, tapi tuan pembesar menugaskan kita bukan tanpa alasan. Pasti ada dasarnya..."belum beres aku berkata dia menimpa
"Dasarnya adalah tuan pembesar tidak punya tugas untuk kau maupun aku, yang tidak pernah menyelesaikan satupun misi dengan baik. Jadi menugaskan kau maupun aku adalah alasan untuk membuat perguruan tidak perlu menangung biaya hidup kita selama menumpang di perguruan. Tidak mengertikah kau?"
"Tuan sungguh naif..."
menyeringai, lalu ia berkata "Bila sudah cukup, aku mau tidur

Pertemuan awal tapi juga masalah yang besar. Atasanku ini tampaknya tidak ada niat untuk menuaikan misi. Sudah 3 bulan sejak pemberian misi, yang ia lakukan hanya tidur, makan pun hanya seminggu sekali. Aku pun sudah hampir putus asa, tapi aku harus mengusakan sesuatu...
Setidaknya aku harus mencari motivasi yang mungkin bisa mengerakkannya, sebab misi ini hanya bisa dilaksanakan oleh dia. Satu-satunya saksi hidup keberadaan Lans Fyonds... begitulah yang kudengar dari Natsu.

Berarti, aku harus mulai menyelidiki masa lalu tuan Edworld dan ikatannya dengan Lans Fyonds. Serta alasan dia tidak berniat mencari Lans Fyonds.

bersambung...

Minggu, 18 Oktober 2009

Relakanlah...

Re, kumohon relakan saja
ada yang datang dan ada yang pergi
tidak ada yang abadi di dunia ini
kecuali perubahan

bagi orang-orang yang kehilangan perasaan seperti kita
amatlah aneh untuk tetap membohongi diri sendiri
kita tidak bisa terus berhalusinasi dan menipu diri
seolah hanya ada satu yang abadi dibalik perubahan

bangunlah, sadarlah, jangan tertipu ilusi
kumohon...

bangunlah, bangun, dan sadarlah

Jumat, 11 September 2009

Nash Elgate Rvtery - Part 3

"aku sudah tak punya tempat untuk pulang"
Berulang kali, pemuda itu melangkah sambil mengucapkan kalimat itu. Kadang kencang, kadang lirih. Melewati hari-hari perjalanan tanpa arah dan kemudi. Dari Zhou ke Hang. Mungkin dalam pikirannya, dengan begitu ia bisa menemukan tempat untuk memasrahkan diri.

"Aku ini sampah dan tak berguna... lebih baik mati ketimbang menjalani hidup seperti ini." begitulah gumamnya pada sore ini sambil bersandar di pohon mahoni. Gumamnya tidak lebih baik dari pada kemarin ataupun kemarinnya lagi. Ia melelapkan diri dalam keputus-asaan tak terhingga.

Hari ini pun tampaknya berlalu seperti hari yang telah berlalu sejak perang asam.
...

Dari batas cakrawala, melewati setapak rerumputan hijau yang menguning cerah. Berjalan sambil melompat seorang bocah. Keceriaan tampak begitu melekat padanya..

Matanya yang nakal menerawang sekelilingnya, dalam sekali tengok, ia melihat pemuda itu. Dengan terheran-heran, ia mengampirinya sambil berkata:
"Tuan, menurut anda puisi Cloud in The Sky dituliskan diawal atau diakhir?"

Pemuda yang sedang menengelamkan diri dalam keputus-asaan itu, tampaknya merasa begitu tergangu dengan kehadiran anak kecil itu. Saat ini ia tidak bisa menikmati keputus-asaan yang sudah ia larutkan begitu lama dalam kesendirian. Namun ia tetap menjawab biarpun sambil kesal. "...entah, mungkin diawal..."

Terheran dengan tingkah dan jawaban pemuda itu, bocah itu tertawa bergelakak. Tampaknya perkataan yang biasa itu begitu lucu ditelinganya. "..Hahahahaha.. anda salah tuan, Cloud in The Sky ditulis pada akhir sebuah awal. Jawaban anda setengah benar dan setengah salah, tapi anda berkata seolah itu jawaban yang benar, sungguh lucu... hmm.. maukah anda melantunkannya tuan?"

Sambil Kesal dan Malas, ia menjawab, "Bocah, aku tidak tahu dan tidak peduli. Mengapa awan di langit, ataupun mengapa air di sungai... aku sungguh tidak peduli."

"Lalu..?", bocah itu memotong dengan tawa dimukanya. "Apa yang anda pedulikan tuan?"

"Tidak ada..." sambil membalik, mengisyarakatkan bocah itu untuk pergi.

"Lalu, kenapa anda begitu peduli pada keputus-asaan, kegagalan, ataupun hal-hal yang menghingapi pikiran gelap anda, tuan?", bocah itu tampak tidak peduli dengan isyarat itu.

"....." pemuda itu terdiam

Sambil tersenyum, bocah itu melantunkan sebuat syair demikian:

.....
Ku bermimpi
berMimpi? Bukankah itu hal yang sering?
Tidak kali ini berbeda sekali, terlalu nyata.
Aku ingat setiap detail dan detik dari mimpi itu.
Akan kukisahkan karena aku masih mengingatnya dengan jelas.

Bertitik pada pusat angin topan
Terlihat seseorang yang dewasa dan bijaksana.
Ia berbicara dengan seorang pemuda, Demikian.
'Siapa aku?'
'Apa kemampuanku?'
'Apa keinginanku?'
Pemuda itu terdiam, lalu berkata.
'Apakah kau adalah aku?'
'Apa pertanyaan itu untuk kutanya dan kujawab sendiri?'

Arus berganti, terlihat bocah, konon ia adalah ahli siasat yang luar biasa.
Terlihat olehnya seseorang perempuan yang amat tua.
Ada suara bergema,
'Bila ini adalah dia dimasa depan, apa kau masih suka dan mencoba?'
Bocah itu tersenyum dan menjawab langsung,
'Dari awal aku sudah tahu, menang atau kalah, semua kemungkinan, dan akhirnya.
Kau tahu? Aku pasti gagal. Tapi apa yang kulakukan murni atas kemauanku,
aku tak peduli hasilnya.'
Bocah itu menunduk lalu menengadah ke langit sambil tersenyum.
Lalu lanjutnya,
'Bila semua kulakukan atas hasil saja, aku bukanlah manusia.
Dan masalahnya aku hanyalah manusia biasa.
Mau bagaimanapun aku tak bisa menyiasati langit untuk lakukan keinginanku.
Siapapun pasti akan tua, sakit, dan mati.
Tapi yang terpenting adalah yang kusuka dan itu sudah cukup'

Di padang rumput terdapat anak muda terbaring.
Dia tak memiliki apapun. Tapi ia tidak bersedih.
Dia memiliki seluruh dunia ini. Tapi ia tidak bergembira.
Karena ia melepas segalanya.

Semua menjadi benar-benar putih bersih.
Dan mimpi pun berakhir.
Dengan pedoman 'tanpa pedoman'
.....

"Apa anda mengerti maknanya tuan?", tanya bocah itu.

"Bocah.. bila aku masih memiliki tujuan dalam hidup, masih mengejar cita-cita, ataupun ada cinta yang masih perlu kukejar... aku pasti akan meladenimu. Tapi bagiku semuanya sudah berakhir, hidupku saat ini adalah menunggu kematian. Hidupku sudah tanpa makna, baik secara eksplisit maupun implisit..."

"...tuan, anda sungguh picik bila begitu. anda tidak pernah bisa mengatakan hidup anda tanpa makna bila anda tidak mengerti kehidupan cacing ataupun burung yang terlihat bagi kita... lebih tanpa makna. anda bahkan tak mengerti apa-apa soal tujuan, cita-cita, ataupun cinta. Yang anda katakan tidak lebih dari vokal tanpa makna. sungguh picik...", dengan lirih bocah itu membalas kata-kata pemuda itu. Namun senyum tetap mengantung dibibir bocah itu.

Pemuda itu terdiam, berpikir sejenak lalu berkata, "..Lalu bocah, ..bukan Lans Realts. Apa arti kehidupan ini? Janganlah berfilosofi denganku, karena aku sungguh dungu dalam pemikiran abstrak."

Bocah itu menyeringai kemudian berkata, "..Hahahahahahaha.. pertanyaan mudah dengan jawaban mudah, wahai Nash Elgate Rvtery... bukankah jawabannya begitu dekat dengan dirimu? Tepatnya jawabannya ada dalam dirimu sendiri. Jangan memungkirinya.. Jangan mencari diluar, bila ia ada didalam." Sambil berkata, tubuhnya bertumbuh.. dari ukuran bocah menjadi pemuda tampan dengan rambut hitam legam pendek menguntai. Matanya biru gelap, seindah batu saphirre. Lengannya panjang dan tebal. Kakinya kuat dan kekar. Badannya tegap tapi lembut.

"Re, bagaimanapun.. aku sudah tidak punya tempat untuk dituju ataupun pulang. Kemana lagi aku harus melangkah..?", sahut pemuda berambut perak itu. Biarpun tubuhnya sekarang kurus sekali, tetapi seakan pernah terjadi sejarah dimana tubuhnya ideal untuk ukuran prajurit bertombak perak.

Sambil menatapnya ia berkata, "Ah, julukan Sky Shooter itu mungkin menjadi beban yang begitu berat bagimu Rvtery. Kau hingga kini terus menerus membidik langit, kejauhan. Sesuatu yang begitu ambisius dan menyedihkan, sebab kini.. sejak perang asam. Segalanya telah berubah, kau tidak punya lagi resource yang sama untuk melakukan hal yang sama.
Kelebihanmu dulu, menjadi kelemahanmu kini. Sebagai ahli taktik yang luar biasa, pola pikirmu adalah kesalahan, namun untuk membenahinya... hanya kau sendiri yang bisa."

sambungnya sambil menyeringai lagi, "...hehe, bagaimanapun lagi." sambil mengeluarkan tatapan penuh tawa. "Kau harus membenahi tujuanmu, mengatur ulang standard yang telah demikian tinggi kau gantung. Dan menata ulang sesuai dengan keadaan sekarang. Melakukan langkah-langkah kecil untuk mencapai pijakan besar, untuk melakukan lompatan kembali."

Rvtery tertunduk malu sambil berkata,
"Aku ingin keluarga, tapi hanya berharap.
Aku ingin teman, tapi hanya berkata.
Aku ingin kekasih, tapi hanya bermimpi.
Aku ingin kekayaan, tapi hanya menatap.
Kesemuanya memiliki satu INTI
Ingin, tapi tanpa rasionalitas."

lanjutnya.. "Dengan demikian, sesungguhnya selama ini aku telah menjadi orang gila. Yang menginginkan hal yang berbeda tetapi terus melakukan hal yang sama. ..dan untuk menyadarkanku itu, sesungguhnya aku harus berterima kasih padamu, Lans Realts."

"Sungguh..", tegasnya sambil tersenyum. Ini senyum pertama bagi Rvtery sejak perang asam itu. Sejak peristiwa yang membinasakan segala hal yang menjadi tujuan hidupnya.

Mutiara Asli yang berkilau tidak muncul dalam semalam. Begitupun legenda Rvtery sang ahli taktik, kejeniusannya menyebar dalam waktu 2 tahun SAGA. Dalam waktu itu, kata-kata "Jenius" muncul berdasarkan titah Raja-Raja pada masa itu, khusus untuk melukiskan kemampuannya.

Senin, 31 Agustus 2009

Museum Bank Mandiri, Exploration !!!

Berbeda dengan MBI, pada MBM aka Museum Bank Mandiri anda akan mengetahui suasana perbankkan pada jaman dulu.
Tepat di depan halte Beos, menjulang tinggi bangunan yang dikenal dengan nama Museum Bank Mandiri. Suasana didepannya ramai riuh, sedikit kontras dengan suasana MBI. Namun dibalik itu semua, apakah yang berada dibalik museum perbankkan yang terkenal ini?
Mengapa begitu banyak orang yang tergerak untuk menjadikan ini sebagai salah satu keajaiban dunia? Atau mengapa gempa di aceh tidak merusak satupun struktur bangunan Museum ini? Segala pertanyaan yang begitu terkecamuk dalam pikiran anda dalam sekejap mata akan sirna saat anda memasukinya.

Sabtu, 29 Agustus 2009

Museum Bank Indonesia, so Classic...

"To remain ignorant of things that happened before you were born is to remain a child."
-Marcus Tilius Cicero-


Mengenang perkataannya, kami tergerak untuk mengunjungi museum bersama teman-temanku pada hari yang telah ditakdirkan. Singkat kata dan waktu, di pagi hari nan cerah pun berawan. Aku tiba dihadapan bangunan tua yang usianya jauh melampaui satu abad, dari luar pun terasa aroma sejarah yang begitu pekat pada bangunan ini, bulu kakiku merinding merasakannya. Dengan langkah kecil namun pasti, kakiku bergerak memasuki Museum Bank Indonesia!
Terpukau
, Kagum, Bangga, Tabjub, maupun Terperangah itulah perasaan yang berkecamuk saat kami berada didalamnya. Kupejamkan mataku, bagai berada dimasa lain. Dan seperti yang dikatakan dalam sejarah anak SD, tempat ini adalah sentral kehidupan ekonomi negeri ini pada waktu lampau. Sungguh tempat yang penuh sejarah dan bermakna.

Selasa, 25 Agustus 2009

there are two kinds of ways in the world...

Disana YIN dan... disana ZHOU
berada pada dua tempat yang berbeda

Yin, adalah awal kuberada
disana ada leluhur, keluarga, dan teman-temanku
disana ikatan tanggung jawabku berada
sebagai anak, teman maupun rakyat
masa lalu, dan pembelengu-ku

Zhou, adalah tujuanku, impianku
disana harapan, kegembiraan, dan cita-citaku
disana aku tanpa ikatan dan bukan siapapun
pribadi yang bebas dan tanpa ikatan
masa depan, dan harapan

Smith, temanku pernah berkata
untuk menghasilkan sesuatu yang besar
dibutuhkan pengorbanan yang besar
...namun pada akhirnya

aku harus kembali ke Yin
tak bisa mengorbankannya...

there are two kinds of people in the world...
people who go to Zhou and people who dont

Minggu, 23 Agustus 2009

There was a time...

mungkin sudah waktu-ku.

untuk berhenti melakukan hal...
dan kembali ke arah yang ingin ku tuju

biarpun berarti... memulai kembali dari 'nol'
itu lebih baik, dibanding terus melakukan hal...

mengertilah...
hanya inilah cara yang saat ini terpikir olehku
untuk mewujudkan cita-citaku...


thanks for Advice:
Analisa, dan tetap tenang; from Peterz
Percaya Diri; from Will
do the Best; from Amytha
Jangan Menyerah; from Smith
Kendalikan Diri; from Mysh
sedikit ambisius; from Robert
jangan terlalu banyak khayal; from Fyna


Wish me the Best!

Sabtu, 27 Juni 2009

Sorak Sorai

Hi! Mari melontarkan topi ke udara!!
terlempar dari tangan yang bergembira
untuk membuktikan keberadaannya
menantikan setiap detik penuh kegembiraan
hidup sangatlah menarik
tak terbatas untuk memenuhi rasa gembira

dunia yang kocak
hal yang terbaik untuk berbagi
bahagia dalam kebebasan ini

dunia yang konyol
hal yang terbaik untuk tumbuh
bahagia dalam kebebasan ini

membuka hati
membuka jiwa

lepaskanlah...
lepaskanlah beban di pundak
perhiasan yang tergantung di bibir kita... senyuman

adalah hal yang terbaik untuk berbagi dengan sesama
matahari di dunia ini penuh dengan mulut tersenyum
banyak masa depan indah menunggu kita
untuk bergabung dalam menciptakan
mata yang bersinar kita adalah sang jembatan

Sabtu, 02 Mei 2009

DeMiller Pordos - Part 2

Kota ini terbakar, sangat panas dan membara. "Aku tidak percaya pada Manusia, Aku tidak percaya pada apapun di dunia ini.", begitulah gumam pria yang terlihat sangat marah dan selalu marah. Kebencian ataupun Keserakahan membuat dirinya lebih kuat dan bergairah.
Sejenak ia duduk di kursi kayu pelantaran kota kelam yang berbau arang dan api. Panas dan membara. Sambil tersenyum ia menatap dengan jijik kepada pengemis di jalan, dan mengampiri si pengemis lalu menedangnya sambil tertawa terbahak-bahak. "Pengemis adalah sampah masyarakat, nista dan menyedihkan, lambang dari kemalasan dan sampah. Aku benci orang seperti kalian, aku ingin menyiksa orang seperti kalian." Sambil berkata begitu, ia membuang ludah pada pengemis itu. Pengemis yang ketakutan sekaligus marah.

Orang-orang dikota itu memanggilnya DeMiller, karena itu namanya. Dan nama itu indentik dengan kebencian pada apapun di dunia ini.
Baginya, dunia membencinya, dan ia pun membenci dunia. Ia tak tertarik pada apapun kecuali menyalurkan kemarahannya yang tak pernah habis. Ia benci matahari terbit karena menganggu tidurnya, ia benci matahari tengelam karena membuat gelap. Ia membenci sup panas karena membuat kerongokongannya terbakar, ia membenci sup dingin karena tidak lezat lagi.
Setiap kali keluar ia selalu membuat percekcokkan entah dimulai dari dia atau orang lain. Tiada toleransi baginya. Orang yang berjalan berlawanan arah dengannya baginya menyusahkan langkahnya, orang yang searah baginya membuat jalan penuh.
Pekerjaan yang ringan membuat ia merasa diremehkan, Pekerjaan yang berat membuat ia merasa diperbudak. Tak ada satu pun hal di dunia ini yang bisa memuaskan dirinya, selain berkelahi. Terutama saat dia menang, saat dia kalah pun ia tetap puas karena ia akan membalas dendam kekalahan itu dengan cara apapun. Kemenangan adalah hasratnya.
Bagi dirinya dunia tidak pernah adil, takkan pernah adil. Lingkaran kemarahan, kebencian, dan keserakahan akan terus berputar dan tak pernah habis, terus membesar, hingga membakar habis dirinya, raga maupun jiwanya.
Dunia yang panas terbakar, itulah yang terlihat baginya, dikota Safara.

Melihat masa lalunya, membuat iba, prihatin, sedih, sekaligus kesal dan benci. Perlakuan orang padanya dari awal memanglah tak adil. Tanpa kasih sayang, tanpa kepercayaan, tanpa ketulusan. Semua hal adalah dusta dan menyakitkan.

Senin, 16 Maret 2009

Jack Windrey - Part 1

"Middleburg the City of Hope", itulah papan yang tertulis dengan terlalu jelas (dan mengangu) di depan mataku. Biarpun aku adalah pria sabar yang berusia 15 tahun tapi tetap saja tak bisa mentoleri keberadaan papan nama itu, (Terlalu semena-mena) kata hatiku yang terdalam. Hanya saja setidaknya malam ini aku bisa tidur nyenyak setelah menyeruput secangkir teh hijau hangat.
...

"Tok-Tok", terdengar bunyi ketukan nada F di pintu kamar losmen yang baru kusewa 198 menit lalu. "Terlalu populer, Terlalu tenar, bahkan tidur pun tak tenang. Siapa paparazi ini?", sambil mengumam begitu aku menuju pintu mencari tahu apa maunya si pengetuk tak dikenal namun pandai mengetuk.
"Kriettttt......." (begitulah bunyi pintu yang sulit dibuka), bersamaan dengan dibukanya sang papan kayu tersebut keluarlah suara manis bernada sophran nan unik (khas gadis-gadis france yang sering meminum orange peco), "Pagi, Mr. Oscar Wildey Kland. Sekarang sudah jam 7 pagi, sesuai permintaan anda. Kami membangunkan anda.", sambil mengusapkan mata aku berusaha melihat gadis yang amat mirip dengan Katy Perry dan ternyata malah lebih cantik dari Katy Perry yang gemar berpakaian pin-up. (Ah! Dipagi buta, Diawal cerita langsung bertemu gadis cantik, sungguh apakah ini akan menjadi kisah cinta saudara-saudara)
Tanpa banyak basa-basi aku mengatakan, "Trims, Ms. Knocker. Bisakah sekalian anda membawakan sarapan saya? Omelet jamur dengan taburan sosis kering dengan sedikit mentega amsterdam dipadu saus kentang. Minumnya cukup coklat hangat ditabur choco chip."
"Maaf pak, disini hanya menyediakan roti panggang dan teh hangat untuk sarapan. Dan nama saya Julia Hamlet, panggil saja Katy" (Sungguh nama yang manis dan indah)
"Ah, itu pun cukup, Katy. Asal ada senyum manismu.", begitu balasku sambil menatap matanya yang biru metalik, sangat indah sekali.
Tersipu malu, ia menjawab, "Baiklah akan saya ambilkan. Tunggulah barang sejenak."
(Seribu tahun pun akan kutunggu)

Sambil menunggu aku membaca beberapa buku yang kubawa secara tak sengaja dalam perjalananku. 'Willing to Dance - Guide to be Millioner, Karya Adam Afro' sungguh buku yang amat aneh, dalam bukunya yang tebal dan tertulis best seller (entah atas dasar apa), dia hanya memotivasi para pembaca secara bodoh tanpa cara-cara yang jelas dan perinci. Semua yang dia tulis pernah kudengar tapi yang special, buku ini mengimani hasrat untuk kaya. (mungkin itu juga yang membuat buku tolol ini jadi best seller). Karena tak menarik kututup buku itu, dan perhatianku teralih pada burung jenis retriver yang sedang mencicit dijendela losmenku.
"Burung brengsek, kau pasti sedang menertawakan diriku. Jangan menghina wahai burung tak tahu diri. Hanya karena dikarunia sayap kau bisa pergi ke tempat mana pun tanpa banyak waktu terbuang. Tapi ingatlah burung bodoh, suatu hari nanti kami umat manusia akan melampaui kesombonganmu dengan mesin teleport yang sedang dikerjakan oleh Dr. Imanuel Hartz. Bersiaplah pada masa terburukmu." (entah kenapa aku berbicara dengan burung tolol yang tetap saja mencicit seperti binatang yang tak mengerti bahasa manusia yang berkelas seperti diriku ini. (dan tampan tentunya))
"Tok-Tok" bunyi ketukan kali ini bukan bernada F, tapi bernada A. Mengapa tak bernada F, seperti tadi. Apakah sang pengantar berbeda? Apakah sedang terjadi kasus pembunuhan berantai dan saat ini sang pembunuh berada di depan pintu untuk mengambil segala milikku? Tapi tidak akan pernah kuserahkan kemurnian hatiku. Dengan takut-takut, kubuka juga pintu kamar losmen ini.
Wangi roti panggang dan teh hangat masuk menyelimuti kamar losmen ini. Tapi yang mengantar bukanlah Katy. Tapi kakek tua yang berumur 26 tahunan lewat 4 bulan, sungguh kontras, dia bahkan tidak cantik, tidak jelita, suaranya pun tidak merdu. Tidak ada tanda-tanda dia keturunan prancis ataupun pernah tinggal di sana. -hampa-

Dengan hati yang sakit, aku memakan sarapan yang hambar ini. Bagiku ini adalah penghinaan, bagaimana tidak. Keinginanku untuk bertemu kembali dengan Katy adalah mutlak dan tak terbantahkan. Usai sudah kisah cinta ini, bila ada waktu lagi. Aku ingin kisah cinta kita diingat dalam sejarah manusia, bisa dikategorikan sebagai cinta tragedi, mirip kisah Titanic, hanya saja kami dipisahkan bukan oleh Es batu, tapi oleh sarapan. Begitulah, aku meninggalkan losmen saat mentari belum terlalu panas untuk membakar jaket kulit hitamku.
Dalam perjalanan, tiba-tiba ponselku, Lexus W789, sebuah ponsel yang memiliki kelebihan dalam kamera. Berbunyi. Aku mengangkatnya, bersuaralah dia. "Mr. Anderson! Bagaimana kabar anda hari ini?"
(astaga, teman sd-ku yang sejak 20 tahun lalu, dan masih terus kontak hingga sekarang. namanya adalah Ronald Purara, tingginya 173cm, hobi bermain game, tapi bodoh, sehingga tampaknya maksud telepon paginya adalah meminta saranku untuk acara kehidupannya hari ini.)
Balasku, "Tentu saja baik, bagaimana kabarmu?"
"Ahahaha!!! Sudah kuduga, sekarang kau sedang dimana? Kudengar kabar bahwa kau terdampar ke kota sebelah. Akibat terlalu mabuk dalam pesta barbar semalam. Apa perlu kujemput? Sekarang posisimu dimana?"
(Sok tahu sekali dia, apa dia pikir aku pasti mau di jemput oleh dia? Memangnya aku tak mandiri. Umurku sudah 15 tahun, itu sudah lebih dari cukup untuk mengelilingi dunia seorang diri.)
"Tentu, sekarang aku sedang didepan Caesar Palace - Diamond Street", balasku dengan riang.
(...eh, apa yang terjadi? mengapa aku menyetujui penghinaan temanku itu dengan menjemputku. Siapa yang mengendalikan diriku yang sebenarnya? Jangan berkata karena alkohol setengah galon bisa membuatku tak sadar, seribu galon pun tak mengapa bagi kesadaranku. Majulah minuman keras!!!)

Orang irlandia terkenal karena citarasanya, rasanya itu adalah statement menarik tapi terkesal lugu. Sebab tak hanya orang irlandia yang bisa mengerti rasa. Anak kecil diperkampungan afrika pun bisa mengerti citarasa apabila setiap hari menyantap makanan berkelas. Ah, sayangnya. Hal ini tidak berlaku bagiku yang tetap saja menyantap match meal - santapan murah meriah dengan rasa tak berkelas. Ah, tapi kelas itu hanya tentang pikiran sajakan. Intinya tetap saja sama, harga. "Huahahaha...!!!!"
Perutku tergelitik oleh pemikiranku yang cerdas tapi bersahaja ini, sambil menatap patung Eliza, the Eater. Patung perempuan yang menderita obesitas tapi tetap makan, tangan kanan sedang menyedok sup bayam sementara tangan kirinya memegang paha ayam dengan daging terurai. Sungguh patung yang rakus..

 

Hit Counters
Amazing Counters