Jumat, 02 April 2010

IV.02. Rantai Masa Lalu

Lans Fyonds - Part 4.02

Fall 18, Serigala Air


Musim telah berganti, dua bulan sudah terlewati. Namun baik Lans Edworld tidak satu langkah pun keluar dari negeri Stin Ygeia, bahkan keluar dari kota Waltz pun tidak. Tampak sang pelaksana misi tertidur di sebuah losmen. Begitu nyenyak, sampai orang selewat pun bisa menerka, sudah berminggu-minggu ia tidak terbangun. Edworld, menengelamkan dirinya kedalam mimpi yang terdalam.

Sebaliknya, sang pengawal, Maxwell, sejak 2 minggu lalu meninggalkan tuannya. Menurut pemilik losmen, ia menitipkan tuannya kepada dirinya. Semata-mata agar dirinya bisa, mencari informasi tentang keberadaan Lans Fyonds. "Daripada menunggui orang tidur, lebih baik aku mencari informasi.", itu perkataan yang Max yang diingat oleh pemilik kos itu.

Pemilik losmen itu sebenarnya tidak terlalu suka dengan keberadaan mereka berdua. Namun karena mereka diberikan misi itu (Pencarian Lans Fyonds), ia pun tidak bisa memilih. Lagi pula keberadaan Fyonds, akan sangat penting bagi negeri itu, dikemudian hari menurutnya. Bagaimanapun, ia hanyalah perempuan tua yang gemuk, namun dibalik itu semua.. ia pun menyimpan harapan pada sosok Fyonds.

===

Ternyata diluar perkiraan, Max pun menganti tujuan perjalanan itu, dari mencari Fyonds sampai akhirnya berusaha mengenal tuannya lebih jauh. Hal itu dikarenakan, keberadaan Fyonds sendiri ternyata lebih sulit dari menemukan Malaikat di Neraka.
Menelisik dan Menyusuri jejak awal keberadaan Edworld, itulah yang akhirnya dilakukan Max. Ia menuju Shang-Ri, perguruan tempat Edworld belajar. Perjalanan itu ia tempuh dalam 3hari, dengan menaiki kuda dan kereta uap.
Shang-Ri sendiri sebuah perguruan di sebuah lembah, untuk mendatanginya harus terlebih dahulu mendaki bukit baru kemudian menuruni bukit. Tempat ini begitu hijau, hijau karena dedaunan. Wangi tempat ini pun semerbak dikarenakan banyaknya bunga, air terjun Charcalt berada di barat perguruan. Tempat ini sangatlah alam dan asri.

Esoknya, setelah menginap semalam di penginapan umum perguruan. Max langsung mencari segala info tentang Edworld. Ia menanyakan ke berbagai orang. Dari Guru hingga Master. Dari murid hingga taruna. Dari ujung ke ujung, tampaknya hampir tidak ada tempat yang memiliki keramaian yang tidak ia tanyakan. Semangatnya untuk mengumpulkan informasi sungguhlah luar biasa. Namun hasilnya sungguh mengecewakan, dibanding memuaskan.

"Huff.. rasanya sudah semua tempat pengajaran kutanyai. Tapi mendengar nama Edworld pun tidak ada yang pernah.", guman Max dengan wajahnya yang putus asa.

Akhirnya ditengah keputusasaannya itu, ia masuk ke perpustakaan perguruan. Ia berniat mencari informasi dari kumpulan buku yang ada, berharap siapa tahu.. ada sedikit informasi tentang tuannya itu, tuan yang aneh itu. Ditengah kumpulan buku itu, ia tertidur kelelahan. Dan saat menjelang malam, ia dibangunkan oleh penjaga pustaka. Heran melihat orang asing yang tidak pernah sebelumnya ia jumpai. Pustakawan itu bertanya pada Max tentang apa yang ia cari.
"Lans Edworld, aku mencari informasi tentang orang ini..", begitu balas Max, sambil terus membuka halaman demi halaman buku yang ada didepannya.
"Edworld? Apa yang kau maksud, pria yang berambut hitam legam dan mata yang tampak selalu mengantuk?", tanya pustakawan itu
"...ah, iya dia yang kucari. Apa anda memiliki informasi tentangnya?", matanya melepas pandangan dari buku-buku. Tampak kelelahan, tapi sedikit senang karena ada informasi biarpun misalkan hanya sedikit.

...

Dari informasi pustakawan itu, Max mengetahui 2hal. Pertama, Edworld sering membolos untuk tidur di perpustakaan ini. Dan kedua, informasi yang jauh lebih bernilai adalah tempat tinggal Edworld selama diperguruan ini, sekaligus teman sekamarnya.
Bergegas, Max menuju pondok-pondok kayu di kompleks murid-murid perguruan. Bulan telah muncul saat Max, mendapati pondok tempat Edworld tinggal. Setelah beberapa ketukan, pintu dibuka, dan menyembul muka yang lelaki yang gemuk.

Setelah saling berkenalan, mereka memulai berbincang. Max tampaknya berupaya sekali mendapatkan informasi tentang Ed. Tapi Rachmond, tampaknya hanya punya sedikit info tentang Ed. Selain mengkategorikan Ed sebagai orang yang malas dan cuek. Rachmond hanya bisa bercerita tentang kisah cinta Edworld. Itu pun tampaknya hanya sebatas yang ia dengar. Sedikit sekali.

Dari cerita Rachmond, Max menyimpulkan terdapat tiga gadis yang pernah memiliki hubungan khusus bagi Edworld. Cerita Rachmond sebenarnya amatlah membingungkan, karena cara ia bercerita sangatlah tidak berpola, logikanya pun melompat-lompat. Sehingga, Max terus melakukan fokus topik, agar ceritanya tidak tentang makanan yang akan dimakannya saat tidak lapar, ataupun cara membuang sampah yang anggun.

Gadis pertama adalah Nivanna Starr, ia adalah putri dari raja, kecantikannya tidak disangkal. Matanya indah, dan jernih, rambutnya hitam legam, dan begitu feminim serta anggun. Max, dapat mendeskripsikan semua hal itu dalam sekilas pandang, dari foto Nivanna. Namun untuk ukuran tinggi badan, ia tidaklah tinggi, tapi berat badannya membuat ukurannya proposional. Dari cerita Rachmond, diketahui bahwa cinta Ed kepadanya hanya sebatas kata-kata, yang tidak pernah terlaksana dalam tindakan ataupun ucapan. Mereka pernah bertegur sapa, namun.. sebatas itu juga yang paling jauh.

Max, hanya bisa tersenyum mendengar penuturan Rach mengenai Nivanna dan Ed.

Lynne Adle adalah gadis kedua, begitulah Rachmond menuturkannya. Dari foto Gadis ini sesungguhnya tidak cantik, biasa saja tapi sensual. Tipe gadis pengoda, bila melihat gayanya yang seronok. Kisah mereka, dimulai dari Adle yang mulai mendekati Ed, Ed sesungguhnya tidak pernah meliriknya pada awalnya. Namun, disaat Ed sudah mulai terbuai dalam perasaannya, dan mulai mencoba menerka-nerka apa itu cinta. Adle sudah menjauh pergi dan mengoda lelaki lain. "Hahaha, sungguh ironis bukan?", tawa Rachmond sehabis menceritakan secara panjang dan lebar.

"Namun, sesungguhnya gadis yang bisa disebut pernah berada di hati Ed, hanya Kai Yin (恺阴). Dia bukanlah putri ataupun pengoda.", tutur Rach memulai mengkisahkan. Foto dimana Ed bersama Yin cukuplah banyak, dan bila dilihat tampaknya mereka adalah pasangan yang cocok. Yin tidak secantik Nivanna. Juga tidak seanti-klimaks Adle. Namun kisah keduanya tidak pula berujung indah.
"Dia adalah gadis yang tidak bisa mendengar apa kata hati, dan perasaannya. Terlalu banyak mendengar perkataan orang tentang Edworld. Ed adalah pemalaslah, pembangkanglah, atau bermasa depan sampah.. Akhirnya, pilihannya menghancurkan kehidupan keduanya. Mungkin, andai Yin memilih Ed. Yin akan menemukan pria yang bisa ia andalkan. Dan Ed pun akan bangkit... bagaimanapun ia adalah satu-satunya pria yang diakui oleh Er Zhang.."
Max tampak terkejut mendengar nama Er Zhang sehingga langsung memotong pembicaraan,"Er Zhang? Taruna Terbaik Shang-Ri yang mampu pernah menembak jatuh 9 Matahari? Ed diakui olehnya? Bukankah anda bilang, Ed hanyalah orang yang sangat payah?"
"Ho..Ho.. Ed memang payah, dan tak berguna. Setidaknya itu yang ditunjukan dia saat berhadapan dengan kita. Aku pun sesungguhnya tidak tahu, mengapa Er Zhang mengakui keberadaan Ed. Mungkin bila kau ada kesempatan bertemu Er Zhang. Kau bisa bertanya padanya. Sebab, dia adalah salah satu dari segelintir orang yang mengakui keberadaan Ed. Bila kau begitu tertarik pada Ed. Bahkan ketiga wanita itu pun, tidak tahu kemampuan Ed sebenarnya, begitu juga denganku. .. Hanya itulah yang kutahu tentang Ed.", Rach mengakhiri pembicaraan, dan mempersilahkan Max keluar pondoknya. Mereka pun berpamitan.

Hari telah begitu gelap dan cahaya yang ada hanya berasal bulan yang tertutup awan.

bersambung...

Sabtu, 20 Maret 2010

IV.01. Takdir dan Pertemuan

Lans Fyonds - Part 4.01

Cacatan Maxwell

Summer, 5 Serigala Air

Mulai hari ini.. aku akan mengemban misi besar. Hmm... Seumur-umur sebagai assist yang bisa dikatakan lebih banyak gagal ketimbang berhasil, sesungguhnya mendapat tugas Rank 1 itu mustahil.
Sulit, itu sudah pasti. Mendampingi Lans Edworld yang mendengar namanya pun tak pernah, untuk menemukan manusia setengah dewata, Lans Fyonds. Sang pewaris kesaktian kaisar Tang..
Kesaktian yang luar biasa, bahkan untuk ukuran dewata. Tanpa sadar kugumankan lantunan syair tentang kaisar Tang.

Ditembak panah, tubuhnya Mengeras
Dikejar kuda, akan lebih cepat dari kuda


Sungguh kesaktian dewata...

Bangun di hari besar lebih merupakan penantian yang panjang, sebab sesungguhnya aku tidak bisa tidur menanti hari ini. Dengan mata yang masih mengantuk karena tidak tidur. Aku menuju Hall of Task, sambil bercakap dengan Natsu, aku menyelediki siapakah gerangan Lans Edworld itu.
Ternyata orangnya tidak seperti bayanganku, tampak terlalu lemah untuk orang yang mengemban misi sebesar ini. Ah, jangan-jangan, dia memiliki kesaktian berpikir atau kesaktian tinggi apa pun itu... Haha, mana mungkin orang rendah mendapat misi kelas atas ini. Mencari Lans Fyonds itu, ibarat mencari keabadiaan, nyawa boleh jadi taruhan, sebab saat bertemu L.Fyonds. Bukan tidak mungkin akan terlebih pertarungan fisik dan kesaktian yang mengorbankan jiwa dan raga.
Namun, belum selesai aku berpikir panjang. Natsu membisikiku, "Setauku, Edworld.. adalah mahkluk yang bermasalah. Dan tidak memiliki kemampuan. Satu-satunya alasan dipilihnya dirinya untuk menemukan Fyonds, adalah karena dia satu-satunya saksi hidup keberadaan Fyonds. Yang oleh dirinya sendiri, ia ingkari."
Mendengar perkataan seperti itu, pikiranku mulai menerawang pada perjalanan yang akan sangat merepotkan dan melelahkan. Ah, sungguh berat... tapi itu satu-satunya cara untuk memulihkan reputasi burukku. Haha...

Kecepatan waktu itu relatif, dan tampaknya menunggu membuat waktu berdetak lebih lama. Menunggu pengesahan misi, membuatku tegang dan lelah. Pikiran berkelana, Hati bergetar... Mungkin karena ini misi besar pertamaku.

"Lans Edworld!!" Itu yang kutunggu, nama dari orang yang akan menjadi atasanku selama misi nanti. Dari barisan paling belakang, berdiri pria yang terlihat mengantuk dan tak bersemangat. Maju dan mengambil "Surat Perintah" dengan ekspresi malas dan mengeluh.

Tuan Salem selaku Ketua Perguruan berkata padanya, "Misi ini bagaimanapun adalah misi yang sulit. Karena itu, kau memiliki waktu yang tak terbatas untuk menuaikannya. Tapi setidaknya selesaikan sebelum kau mati."
"Bagaimanapun tuan Salem.. misi ini adalah lelucon bukan?", balas Edworld sambil menyeringai ngantuk.
Mereka hanya bertukar pandang, kemudian Edworld pergi ke pintu keluar perguruan. Dan tampaknya ia berencana menjalankan misi ini segera.

Terbangun dari lamunan, aku langsung bergegas mengejarnya. 'Sungguh mengherankan dia itu, tidak mencari assistennya dulu tapi langsung bergegas pergi.. aku tak mengerti apa yang membuat ia begitu terburu-buru'
Tak berapa lama aku berhasil mengejarnya, "Tuan Lans Edworld tunggu sebentar, saya Maxwell Odeous yang akan menjadi assisten anda. Apa anda tidak tahu anda mendapat pengawalan saya?"
Langkahnya berhenti, dan ia memandangku dengan mata ngantuknya. Kemudian ia berkata, "Dengan atau tanpa pengawalan.. misi ini adalah lelucon. Memang kau pikir aku mau kemana?"
"Mencari Lans Fyonds, tuan" balasku
"Hahaha... Lans Fyonds? Keberadaan orang itu lebih merupakan lelucon antar generasi yang ditumpukkan keberadaanya kepada saya, Lans Edworld. Secara logis maupun deduktif, keberadaanya hanyalah hikayat. Jadi yang saya mau lakukan sekarang adalah tidur! Bukan mencari hal yang tidak ada. Tidak mengertikah kau?"
"Tuan, bagaimanapun memang keberadaan Lans Fyonds begitu tipis, tapi tuan pembesar menugaskan kita bukan tanpa alasan. Pasti ada dasarnya..."belum beres aku berkata dia menimpa
"Dasarnya adalah tuan pembesar tidak punya tugas untuk kau maupun aku, yang tidak pernah menyelesaikan satupun misi dengan baik. Jadi menugaskan kau maupun aku adalah alasan untuk membuat perguruan tidak perlu menangung biaya hidup kita selama menumpang di perguruan. Tidak mengertikah kau?"
"Tuan sungguh naif..."
menyeringai, lalu ia berkata "Bila sudah cukup, aku mau tidur

Pertemuan awal tapi juga masalah yang besar. Atasanku ini tampaknya tidak ada niat untuk menuaikan misi. Sudah 3 bulan sejak pemberian misi, yang ia lakukan hanya tidur, makan pun hanya seminggu sekali. Aku pun sudah hampir putus asa, tapi aku harus mengusakan sesuatu...
Setidaknya aku harus mencari motivasi yang mungkin bisa mengerakkannya, sebab misi ini hanya bisa dilaksanakan oleh dia. Satu-satunya saksi hidup keberadaan Lans Fyonds... begitulah yang kudengar dari Natsu.

Berarti, aku harus mulai menyelidiki masa lalu tuan Edworld dan ikatannya dengan Lans Fyonds. Serta alasan dia tidak berniat mencari Lans Fyonds.

bersambung...

Minggu, 18 Oktober 2009

Relakanlah...

Re, kumohon relakan saja
ada yang datang dan ada yang pergi
tidak ada yang abadi di dunia ini
kecuali perubahan

bagi orang-orang yang kehilangan perasaan seperti kita
amatlah aneh untuk tetap membohongi diri sendiri
kita tidak bisa terus berhalusinasi dan menipu diri
seolah hanya ada satu yang abadi dibalik perubahan

bangunlah, sadarlah, jangan tertipu ilusi
kumohon...

bangunlah, bangun, dan sadarlah

Jumat, 11 September 2009

Nash Elgate Rvtery - Part 3

"aku sudah tak punya tempat untuk pulang"
Berulang kali, pemuda itu melangkah sambil mengucapkan kalimat itu. Kadang kencang, kadang lirih. Melewati hari-hari perjalanan tanpa arah dan kemudi. Dari Zhou ke Hang. Mungkin dalam pikirannya, dengan begitu ia bisa menemukan tempat untuk memasrahkan diri.

"Aku ini sampah dan tak berguna... lebih baik mati ketimbang menjalani hidup seperti ini." begitulah gumamnya pada sore ini sambil bersandar di pohon mahoni. Gumamnya tidak lebih baik dari pada kemarin ataupun kemarinnya lagi. Ia melelapkan diri dalam keputus-asaan tak terhingga.

Hari ini pun tampaknya berlalu seperti hari yang telah berlalu sejak perang asam.
...

Dari batas cakrawala, melewati setapak rerumputan hijau yang menguning cerah. Berjalan sambil melompat seorang bocah. Keceriaan tampak begitu melekat padanya..

Matanya yang nakal menerawang sekelilingnya, dalam sekali tengok, ia melihat pemuda itu. Dengan terheran-heran, ia mengampirinya sambil berkata:
"Tuan, menurut anda puisi Cloud in The Sky dituliskan diawal atau diakhir?"

Pemuda yang sedang menengelamkan diri dalam keputus-asaan itu, tampaknya merasa begitu tergangu dengan kehadiran anak kecil itu. Saat ini ia tidak bisa menikmati keputus-asaan yang sudah ia larutkan begitu lama dalam kesendirian. Namun ia tetap menjawab biarpun sambil kesal. "...entah, mungkin diawal..."

Terheran dengan tingkah dan jawaban pemuda itu, bocah itu tertawa bergelakak. Tampaknya perkataan yang biasa itu begitu lucu ditelinganya. "..Hahahahaha.. anda salah tuan, Cloud in The Sky ditulis pada akhir sebuah awal. Jawaban anda setengah benar dan setengah salah, tapi anda berkata seolah itu jawaban yang benar, sungguh lucu... hmm.. maukah anda melantunkannya tuan?"

Sambil Kesal dan Malas, ia menjawab, "Bocah, aku tidak tahu dan tidak peduli. Mengapa awan di langit, ataupun mengapa air di sungai... aku sungguh tidak peduli."

"Lalu..?", bocah itu memotong dengan tawa dimukanya. "Apa yang anda pedulikan tuan?"

"Tidak ada..." sambil membalik, mengisyarakatkan bocah itu untuk pergi.

"Lalu, kenapa anda begitu peduli pada keputus-asaan, kegagalan, ataupun hal-hal yang menghingapi pikiran gelap anda, tuan?", bocah itu tampak tidak peduli dengan isyarat itu.

"....." pemuda itu terdiam

Sambil tersenyum, bocah itu melantunkan sebuat syair demikian:

.....
Ku bermimpi
berMimpi? Bukankah itu hal yang sering?
Tidak kali ini berbeda sekali, terlalu nyata.
Aku ingat setiap detail dan detik dari mimpi itu.
Akan kukisahkan karena aku masih mengingatnya dengan jelas.

Bertitik pada pusat angin topan
Terlihat seseorang yang dewasa dan bijaksana.
Ia berbicara dengan seorang pemuda, Demikian.
'Siapa aku?'
'Apa kemampuanku?'
'Apa keinginanku?'
Pemuda itu terdiam, lalu berkata.
'Apakah kau adalah aku?'
'Apa pertanyaan itu untuk kutanya dan kujawab sendiri?'

Arus berganti, terlihat bocah, konon ia adalah ahli siasat yang luar biasa.
Terlihat olehnya seseorang perempuan yang amat tua.
Ada suara bergema,
'Bila ini adalah dia dimasa depan, apa kau masih suka dan mencoba?'
Bocah itu tersenyum dan menjawab langsung,
'Dari awal aku sudah tahu, menang atau kalah, semua kemungkinan, dan akhirnya.
Kau tahu? Aku pasti gagal. Tapi apa yang kulakukan murni atas kemauanku,
aku tak peduli hasilnya.'
Bocah itu menunduk lalu menengadah ke langit sambil tersenyum.
Lalu lanjutnya,
'Bila semua kulakukan atas hasil saja, aku bukanlah manusia.
Dan masalahnya aku hanyalah manusia biasa.
Mau bagaimanapun aku tak bisa menyiasati langit untuk lakukan keinginanku.
Siapapun pasti akan tua, sakit, dan mati.
Tapi yang terpenting adalah yang kusuka dan itu sudah cukup'

Di padang rumput terdapat anak muda terbaring.
Dia tak memiliki apapun. Tapi ia tidak bersedih.
Dia memiliki seluruh dunia ini. Tapi ia tidak bergembira.
Karena ia melepas segalanya.

Semua menjadi benar-benar putih bersih.
Dan mimpi pun berakhir.
Dengan pedoman 'tanpa pedoman'
.....

"Apa anda mengerti maknanya tuan?", tanya bocah itu.

"Bocah.. bila aku masih memiliki tujuan dalam hidup, masih mengejar cita-cita, ataupun ada cinta yang masih perlu kukejar... aku pasti akan meladenimu. Tapi bagiku semuanya sudah berakhir, hidupku saat ini adalah menunggu kematian. Hidupku sudah tanpa makna, baik secara eksplisit maupun implisit..."

"...tuan, anda sungguh picik bila begitu. anda tidak pernah bisa mengatakan hidup anda tanpa makna bila anda tidak mengerti kehidupan cacing ataupun burung yang terlihat bagi kita... lebih tanpa makna. anda bahkan tak mengerti apa-apa soal tujuan, cita-cita, ataupun cinta. Yang anda katakan tidak lebih dari vokal tanpa makna. sungguh picik...", dengan lirih bocah itu membalas kata-kata pemuda itu. Namun senyum tetap mengantung dibibir bocah itu.

Pemuda itu terdiam, berpikir sejenak lalu berkata, "..Lalu bocah, ..bukan Lans Realts. Apa arti kehidupan ini? Janganlah berfilosofi denganku, karena aku sungguh dungu dalam pemikiran abstrak."

Bocah itu menyeringai kemudian berkata, "..Hahahahahahaha.. pertanyaan mudah dengan jawaban mudah, wahai Nash Elgate Rvtery... bukankah jawabannya begitu dekat dengan dirimu? Tepatnya jawabannya ada dalam dirimu sendiri. Jangan memungkirinya.. Jangan mencari diluar, bila ia ada didalam." Sambil berkata, tubuhnya bertumbuh.. dari ukuran bocah menjadi pemuda tampan dengan rambut hitam legam pendek menguntai. Matanya biru gelap, seindah batu saphirre. Lengannya panjang dan tebal. Kakinya kuat dan kekar. Badannya tegap tapi lembut.

"Re, bagaimanapun.. aku sudah tidak punya tempat untuk dituju ataupun pulang. Kemana lagi aku harus melangkah..?", sahut pemuda berambut perak itu. Biarpun tubuhnya sekarang kurus sekali, tetapi seakan pernah terjadi sejarah dimana tubuhnya ideal untuk ukuran prajurit bertombak perak.

Sambil menatapnya ia berkata, "Ah, julukan Sky Shooter itu mungkin menjadi beban yang begitu berat bagimu Rvtery. Kau hingga kini terus menerus membidik langit, kejauhan. Sesuatu yang begitu ambisius dan menyedihkan, sebab kini.. sejak perang asam. Segalanya telah berubah, kau tidak punya lagi resource yang sama untuk melakukan hal yang sama.
Kelebihanmu dulu, menjadi kelemahanmu kini. Sebagai ahli taktik yang luar biasa, pola pikirmu adalah kesalahan, namun untuk membenahinya... hanya kau sendiri yang bisa."

sambungnya sambil menyeringai lagi, "...hehe, bagaimanapun lagi." sambil mengeluarkan tatapan penuh tawa. "Kau harus membenahi tujuanmu, mengatur ulang standard yang telah demikian tinggi kau gantung. Dan menata ulang sesuai dengan keadaan sekarang. Melakukan langkah-langkah kecil untuk mencapai pijakan besar, untuk melakukan lompatan kembali."

Rvtery tertunduk malu sambil berkata,
"Aku ingin keluarga, tapi hanya berharap.
Aku ingin teman, tapi hanya berkata.
Aku ingin kekasih, tapi hanya bermimpi.
Aku ingin kekayaan, tapi hanya menatap.
Kesemuanya memiliki satu INTI
Ingin, tapi tanpa rasionalitas."

lanjutnya.. "Dengan demikian, sesungguhnya selama ini aku telah menjadi orang gila. Yang menginginkan hal yang berbeda tetapi terus melakukan hal yang sama. ..dan untuk menyadarkanku itu, sesungguhnya aku harus berterima kasih padamu, Lans Realts."

"Sungguh..", tegasnya sambil tersenyum. Ini senyum pertama bagi Rvtery sejak perang asam itu. Sejak peristiwa yang membinasakan segala hal yang menjadi tujuan hidupnya.

Mutiara Asli yang berkilau tidak muncul dalam semalam. Begitupun legenda Rvtery sang ahli taktik, kejeniusannya menyebar dalam waktu 2 tahun SAGA. Dalam waktu itu, kata-kata "Jenius" muncul berdasarkan titah Raja-Raja pada masa itu, khusus untuk melukiskan kemampuannya.

Senin, 31 Agustus 2009

Museum Bank Mandiri, Exploration !!!

Berbeda dengan MBI, pada MBM aka Museum Bank Mandiri anda akan mengetahui suasana perbankkan pada jaman dulu.
Tepat di depan halte Beos, menjulang tinggi bangunan yang dikenal dengan nama Museum Bank Mandiri. Suasana didepannya ramai riuh, sedikit kontras dengan suasana MBI. Namun dibalik itu semua, apakah yang berada dibalik museum perbankkan yang terkenal ini?
Mengapa begitu banyak orang yang tergerak untuk menjadikan ini sebagai salah satu keajaiban dunia? Atau mengapa gempa di aceh tidak merusak satupun struktur bangunan Museum ini? Segala pertanyaan yang begitu terkecamuk dalam pikiran anda dalam sekejap mata akan sirna saat anda memasukinya.

Sabtu, 29 Agustus 2009

Museum Bank Indonesia, so Classic...

"To remain ignorant of things that happened before you were born is to remain a child."
-Marcus Tilius Cicero-


Mengenang perkataannya, kami tergerak untuk mengunjungi museum bersama teman-temanku pada hari yang telah ditakdirkan. Singkat kata dan waktu, di pagi hari nan cerah pun berawan. Aku tiba dihadapan bangunan tua yang usianya jauh melampaui satu abad, dari luar pun terasa aroma sejarah yang begitu pekat pada bangunan ini, bulu kakiku merinding merasakannya. Dengan langkah kecil namun pasti, kakiku bergerak memasuki Museum Bank Indonesia!
Terpukau
, Kagum, Bangga, Tabjub, maupun Terperangah itulah perasaan yang berkecamuk saat kami berada didalamnya. Kupejamkan mataku, bagai berada dimasa lain. Dan seperti yang dikatakan dalam sejarah anak SD, tempat ini adalah sentral kehidupan ekonomi negeri ini pada waktu lampau. Sungguh tempat yang penuh sejarah dan bermakna.

Selasa, 25 Agustus 2009

there are two kinds of ways in the world...

Disana YIN dan... disana ZHOU
berada pada dua tempat yang berbeda

Yin, adalah awal kuberada
disana ada leluhur, keluarga, dan teman-temanku
disana ikatan tanggung jawabku berada
sebagai anak, teman maupun rakyat
masa lalu, dan pembelengu-ku

Zhou, adalah tujuanku, impianku
disana harapan, kegembiraan, dan cita-citaku
disana aku tanpa ikatan dan bukan siapapun
pribadi yang bebas dan tanpa ikatan
masa depan, dan harapan

Smith, temanku pernah berkata
untuk menghasilkan sesuatu yang besar
dibutuhkan pengorbanan yang besar
...namun pada akhirnya

aku harus kembali ke Yin
tak bisa mengorbankannya...

there are two kinds of people in the world...
people who go to Zhou and people who dont

 

Hit Counters
Amazing Counters