Sabtu, 29 Agustus 2009

Museum Bank Indonesia, so Classic...

"To remain ignorant of things that happened before you were born is to remain a child."
-Marcus Tilius Cicero-


Mengenang perkataannya, kami tergerak untuk mengunjungi museum bersama teman-temanku pada hari yang telah ditakdirkan. Singkat kata dan waktu, di pagi hari nan cerah pun berawan. Aku tiba dihadapan bangunan tua yang usianya jauh melampaui satu abad, dari luar pun terasa aroma sejarah yang begitu pekat pada bangunan ini, bulu kakiku merinding merasakannya. Dengan langkah kecil namun pasti, kakiku bergerak memasuki Museum Bank Indonesia!
Terpukau
, Kagum, Bangga, Tabjub, maupun Terperangah itulah perasaan yang berkecamuk saat kami berada didalamnya. Kupejamkan mataku, bagai berada dimasa lain. Dan seperti yang dikatakan dalam sejarah anak SD, tempat ini adalah sentral kehidupan ekonomi negeri ini pada waktu lampau. Sungguh tempat yang penuh sejarah dan bermakna.

Selasa, 25 Agustus 2009

there are two kinds of ways in the world...

Disana YIN dan... disana ZHOU
berada pada dua tempat yang berbeda

Yin, adalah awal kuberada
disana ada leluhur, keluarga, dan teman-temanku
disana ikatan tanggung jawabku berada
sebagai anak, teman maupun rakyat
masa lalu, dan pembelengu-ku

Zhou, adalah tujuanku, impianku
disana harapan, kegembiraan, dan cita-citaku
disana aku tanpa ikatan dan bukan siapapun
pribadi yang bebas dan tanpa ikatan
masa depan, dan harapan

Smith, temanku pernah berkata
untuk menghasilkan sesuatu yang besar
dibutuhkan pengorbanan yang besar
...namun pada akhirnya

aku harus kembali ke Yin
tak bisa mengorbankannya...

there are two kinds of people in the world...
people who go to Zhou and people who dont

Minggu, 23 Agustus 2009

There was a time...

mungkin sudah waktu-ku.

untuk berhenti melakukan hal...
dan kembali ke arah yang ingin ku tuju

biarpun berarti... memulai kembali dari 'nol'
itu lebih baik, dibanding terus melakukan hal...

mengertilah...
hanya inilah cara yang saat ini terpikir olehku
untuk mewujudkan cita-citaku...


thanks for Advice:
Analisa, dan tetap tenang; from Peterz
Percaya Diri; from Will
do the Best; from Amytha
Jangan Menyerah; from Smith
Kendalikan Diri; from Mysh
sedikit ambisius; from Robert
jangan terlalu banyak khayal; from Fyna


Wish me the Best!

Sabtu, 27 Juni 2009

Sorak Sorai

Hi! Mari melontarkan topi ke udara!!
terlempar dari tangan yang bergembira
untuk membuktikan keberadaannya
menantikan setiap detik penuh kegembiraan
hidup sangatlah menarik
tak terbatas untuk memenuhi rasa gembira

dunia yang kocak
hal yang terbaik untuk berbagi
bahagia dalam kebebasan ini

dunia yang konyol
hal yang terbaik untuk tumbuh
bahagia dalam kebebasan ini

membuka hati
membuka jiwa

lepaskanlah...
lepaskanlah beban di pundak
perhiasan yang tergantung di bibir kita... senyuman

adalah hal yang terbaik untuk berbagi dengan sesama
matahari di dunia ini penuh dengan mulut tersenyum
banyak masa depan indah menunggu kita
untuk bergabung dalam menciptakan
mata yang bersinar kita adalah sang jembatan

Sabtu, 02 Mei 2009

DeMiller Pordos - Part 2

Kota ini terbakar, sangat panas dan membara. "Aku tidak percaya pada Manusia, Aku tidak percaya pada apapun di dunia ini.", begitulah gumam pria yang terlihat sangat marah dan selalu marah. Kebencian ataupun Keserakahan membuat dirinya lebih kuat dan bergairah.
Sejenak ia duduk di kursi kayu pelantaran kota kelam yang berbau arang dan api. Panas dan membara. Sambil tersenyum ia menatap dengan jijik kepada pengemis di jalan, dan mengampiri si pengemis lalu menedangnya sambil tertawa terbahak-bahak. "Pengemis adalah sampah masyarakat, nista dan menyedihkan, lambang dari kemalasan dan sampah. Aku benci orang seperti kalian, aku ingin menyiksa orang seperti kalian." Sambil berkata begitu, ia membuang ludah pada pengemis itu. Pengemis yang ketakutan sekaligus marah.

Orang-orang dikota itu memanggilnya DeMiller, karena itu namanya. Dan nama itu indentik dengan kebencian pada apapun di dunia ini.
Baginya, dunia membencinya, dan ia pun membenci dunia. Ia tak tertarik pada apapun kecuali menyalurkan kemarahannya yang tak pernah habis. Ia benci matahari terbit karena menganggu tidurnya, ia benci matahari tengelam karena membuat gelap. Ia membenci sup panas karena membuat kerongokongannya terbakar, ia membenci sup dingin karena tidak lezat lagi.
Setiap kali keluar ia selalu membuat percekcokkan entah dimulai dari dia atau orang lain. Tiada toleransi baginya. Orang yang berjalan berlawanan arah dengannya baginya menyusahkan langkahnya, orang yang searah baginya membuat jalan penuh.
Pekerjaan yang ringan membuat ia merasa diremehkan, Pekerjaan yang berat membuat ia merasa diperbudak. Tak ada satu pun hal di dunia ini yang bisa memuaskan dirinya, selain berkelahi. Terutama saat dia menang, saat dia kalah pun ia tetap puas karena ia akan membalas dendam kekalahan itu dengan cara apapun. Kemenangan adalah hasratnya.
Bagi dirinya dunia tidak pernah adil, takkan pernah adil. Lingkaran kemarahan, kebencian, dan keserakahan akan terus berputar dan tak pernah habis, terus membesar, hingga membakar habis dirinya, raga maupun jiwanya.
Dunia yang panas terbakar, itulah yang terlihat baginya, dikota Safara.

Melihat masa lalunya, membuat iba, prihatin, sedih, sekaligus kesal dan benci. Perlakuan orang padanya dari awal memanglah tak adil. Tanpa kasih sayang, tanpa kepercayaan, tanpa ketulusan. Semua hal adalah dusta dan menyakitkan.

Senin, 16 Maret 2009

Jack Windrey - Part 1

"Middleburg the City of Hope", itulah papan yang tertulis dengan terlalu jelas (dan mengangu) di depan mataku. Biarpun aku adalah pria sabar yang berusia 15 tahun tapi tetap saja tak bisa mentoleri keberadaan papan nama itu, (Terlalu semena-mena) kata hatiku yang terdalam. Hanya saja setidaknya malam ini aku bisa tidur nyenyak setelah menyeruput secangkir teh hijau hangat.
...

"Tok-Tok", terdengar bunyi ketukan nada F di pintu kamar losmen yang baru kusewa 198 menit lalu. "Terlalu populer, Terlalu tenar, bahkan tidur pun tak tenang. Siapa paparazi ini?", sambil mengumam begitu aku menuju pintu mencari tahu apa maunya si pengetuk tak dikenal namun pandai mengetuk.
"Kriettttt......." (begitulah bunyi pintu yang sulit dibuka), bersamaan dengan dibukanya sang papan kayu tersebut keluarlah suara manis bernada sophran nan unik (khas gadis-gadis france yang sering meminum orange peco), "Pagi, Mr. Oscar Wildey Kland. Sekarang sudah jam 7 pagi, sesuai permintaan anda. Kami membangunkan anda.", sambil mengusapkan mata aku berusaha melihat gadis yang amat mirip dengan Katy Perry dan ternyata malah lebih cantik dari Katy Perry yang gemar berpakaian pin-up. (Ah! Dipagi buta, Diawal cerita langsung bertemu gadis cantik, sungguh apakah ini akan menjadi kisah cinta saudara-saudara)
Tanpa banyak basa-basi aku mengatakan, "Trims, Ms. Knocker. Bisakah sekalian anda membawakan sarapan saya? Omelet jamur dengan taburan sosis kering dengan sedikit mentega amsterdam dipadu saus kentang. Minumnya cukup coklat hangat ditabur choco chip."
"Maaf pak, disini hanya menyediakan roti panggang dan teh hangat untuk sarapan. Dan nama saya Julia Hamlet, panggil saja Katy" (Sungguh nama yang manis dan indah)
"Ah, itu pun cukup, Katy. Asal ada senyum manismu.", begitu balasku sambil menatap matanya yang biru metalik, sangat indah sekali.
Tersipu malu, ia menjawab, "Baiklah akan saya ambilkan. Tunggulah barang sejenak."
(Seribu tahun pun akan kutunggu)

Sambil menunggu aku membaca beberapa buku yang kubawa secara tak sengaja dalam perjalananku. 'Willing to Dance - Guide to be Millioner, Karya Adam Afro' sungguh buku yang amat aneh, dalam bukunya yang tebal dan tertulis best seller (entah atas dasar apa), dia hanya memotivasi para pembaca secara bodoh tanpa cara-cara yang jelas dan perinci. Semua yang dia tulis pernah kudengar tapi yang special, buku ini mengimani hasrat untuk kaya. (mungkin itu juga yang membuat buku tolol ini jadi best seller). Karena tak menarik kututup buku itu, dan perhatianku teralih pada burung jenis retriver yang sedang mencicit dijendela losmenku.
"Burung brengsek, kau pasti sedang menertawakan diriku. Jangan menghina wahai burung tak tahu diri. Hanya karena dikarunia sayap kau bisa pergi ke tempat mana pun tanpa banyak waktu terbuang. Tapi ingatlah burung bodoh, suatu hari nanti kami umat manusia akan melampaui kesombonganmu dengan mesin teleport yang sedang dikerjakan oleh Dr. Imanuel Hartz. Bersiaplah pada masa terburukmu." (entah kenapa aku berbicara dengan burung tolol yang tetap saja mencicit seperti binatang yang tak mengerti bahasa manusia yang berkelas seperti diriku ini. (dan tampan tentunya))
"Tok-Tok" bunyi ketukan kali ini bukan bernada F, tapi bernada A. Mengapa tak bernada F, seperti tadi. Apakah sang pengantar berbeda? Apakah sedang terjadi kasus pembunuhan berantai dan saat ini sang pembunuh berada di depan pintu untuk mengambil segala milikku? Tapi tidak akan pernah kuserahkan kemurnian hatiku. Dengan takut-takut, kubuka juga pintu kamar losmen ini.
Wangi roti panggang dan teh hangat masuk menyelimuti kamar losmen ini. Tapi yang mengantar bukanlah Katy. Tapi kakek tua yang berumur 26 tahunan lewat 4 bulan, sungguh kontras, dia bahkan tidak cantik, tidak jelita, suaranya pun tidak merdu. Tidak ada tanda-tanda dia keturunan prancis ataupun pernah tinggal di sana. -hampa-

Dengan hati yang sakit, aku memakan sarapan yang hambar ini. Bagiku ini adalah penghinaan, bagaimana tidak. Keinginanku untuk bertemu kembali dengan Katy adalah mutlak dan tak terbantahkan. Usai sudah kisah cinta ini, bila ada waktu lagi. Aku ingin kisah cinta kita diingat dalam sejarah manusia, bisa dikategorikan sebagai cinta tragedi, mirip kisah Titanic, hanya saja kami dipisahkan bukan oleh Es batu, tapi oleh sarapan. Begitulah, aku meninggalkan losmen saat mentari belum terlalu panas untuk membakar jaket kulit hitamku.
Dalam perjalanan, tiba-tiba ponselku, Lexus W789, sebuah ponsel yang memiliki kelebihan dalam kamera. Berbunyi. Aku mengangkatnya, bersuaralah dia. "Mr. Anderson! Bagaimana kabar anda hari ini?"
(astaga, teman sd-ku yang sejak 20 tahun lalu, dan masih terus kontak hingga sekarang. namanya adalah Ronald Purara, tingginya 173cm, hobi bermain game, tapi bodoh, sehingga tampaknya maksud telepon paginya adalah meminta saranku untuk acara kehidupannya hari ini.)
Balasku, "Tentu saja baik, bagaimana kabarmu?"
"Ahahaha!!! Sudah kuduga, sekarang kau sedang dimana? Kudengar kabar bahwa kau terdampar ke kota sebelah. Akibat terlalu mabuk dalam pesta barbar semalam. Apa perlu kujemput? Sekarang posisimu dimana?"
(Sok tahu sekali dia, apa dia pikir aku pasti mau di jemput oleh dia? Memangnya aku tak mandiri. Umurku sudah 15 tahun, itu sudah lebih dari cukup untuk mengelilingi dunia seorang diri.)
"Tentu, sekarang aku sedang didepan Caesar Palace - Diamond Street", balasku dengan riang.
(...eh, apa yang terjadi? mengapa aku menyetujui penghinaan temanku itu dengan menjemputku. Siapa yang mengendalikan diriku yang sebenarnya? Jangan berkata karena alkohol setengah galon bisa membuatku tak sadar, seribu galon pun tak mengapa bagi kesadaranku. Majulah minuman keras!!!)

Orang irlandia terkenal karena citarasanya, rasanya itu adalah statement menarik tapi terkesal lugu. Sebab tak hanya orang irlandia yang bisa mengerti rasa. Anak kecil diperkampungan afrika pun bisa mengerti citarasa apabila setiap hari menyantap makanan berkelas. Ah, sayangnya. Hal ini tidak berlaku bagiku yang tetap saja menyantap match meal - santapan murah meriah dengan rasa tak berkelas. Ah, tapi kelas itu hanya tentang pikiran sajakan. Intinya tetap saja sama, harga. "Huahahaha...!!!!"
Perutku tergelitik oleh pemikiranku yang cerdas tapi bersahaja ini, sambil menatap patung Eliza, the Eater. Patung perempuan yang menderita obesitas tapi tetap makan, tangan kanan sedang menyedok sup bayam sementara tangan kirinya memegang paha ayam dengan daging terurai. Sungguh patung yang rakus..

Jumat, 06 Maret 2009

At the Heart of All Matter

Dulu pernah ada yang berkata padaku, bahwa aku seperti dijaga oleh 3 dewi. Athena, Muse, dan Minerva. Athena membuat keberuntungan selalu berpihak padaku. Aku sejujurnya tidak peduli dengan perumpaman tersebut. Tapi memang tak bisa disangkal keberuntungan selalu bersama diriku. Tak pernah lari kemanapun, bagai bayangan yang mengikuti pemiliknya, begitu juga keberuntungan mengikuti diriku.
SeeV bagiku adalah teman terbaikku, bukan mengapa. Karena ia adalah orang yang merubah cara pandangku. Dihadapan orang seperti dia, aku merasa amat rendah dan tak memiliki kemampuan, tapi itulah yang memberiku kelebihan dan kemampuan baru.

Aku masih ingat perkataan dia, "Baik dan Jujur adalah keharusan. Menolong orang lain adalah tanggung jawab kita sebagai sesama manusia. Mencintai semua mahkluk adalah hal yang tersulit."

Man, mendengar perkatanya dan melihat tingkahnya aku merasa menjadi manusia yang picik. Ah, andai tak pernah bertemu dengannya, aku akan terus hidup dengan cara bersenang-senang yang egois.
Orang lain terkadang mengatakan aku pelit, karena aku berusaha menghemat biaya yang tak perlu, terus mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk kedua orang tuaku. Sebab saat ini hanya cara itu yang kuketahui. Semoga kedepan, aku bisa melakukan lebih banyak hal.

Yah, untuk saat ini aku hanya bisa menulis sedikit. Karena akhir-akhir ini aku amat sibuk. Huahahaha....

 

Hit Counters
Amazing Counters