hamparan kristal dan awan
mustika jiwa para pejuang
ingatkah mereka akan tanah kelahiran mereka?
perjuangan pada lautan merah asam
datang dan pergi
ratusan, miliaran kisah muncul
tragedi demi tragedi
tragis dan mengharukan
untaian senyum dan tangis
rangkaian aksara bersumbilah
bersandingnya percikan tanah biru
getaran dari sumber mimpi dan impian dan cita-cita
bernyanyilah, wahai sungai waktu
buih-buih kristal biru dari atas
mengiringi kedatangan malaikat pencuri hati
bagai meminum air garam, haus akan kehangatan
sakitkah ia? jatuh dari singasana
sungai menuju laut
hiasi dengan tawa pilu
kristal demi kristal bertemu, berpapasan, berjalan
dihulu bertemu dan berpisah dihilir
dunia di belakang cermin
keringat berjatuhan dari mata
lelah atas perpisahan
hembusan sinar menganti panggung
penari menari sili berganti
menukar peran menukar irama
kemilau mengelap
berakhir.....
di latar berdebu
ah, harumnya warna kelabu
menipis seiring sapuan tari
terjebak delusi idiot
para peramal masa lalu
Kamis, 09 Oktober 2008
Lontaran Kota Tua
Rabu, 08 Oktober 2008
EmerLand
musim berjalan
hujan saat kering
kering saat hujan
daun-daun berguguran
tak ada yang tertinggal
air mata tak memutarkan
angin memeluk gunung
seribu dasa pun mustahil
terus berhembus menuju utara
semilir mengikis karang
dalam legenda, semilir mengkristal
menyatu dengan karang bebatuan
itulah EmerLand, sang saksi-esa
bersatunya angin dengan gunung
karang menyatu dengan karang
itulah gunung, pada kenyataan
daun citrus dan daun baobab
menyatu dalam guguran daun
pada musimnya
Jejak Pedoman Sejarah
Purnama mencapai Sinar
dimanalah pantulan berselimut
arloji usang lari berdetak
menuju persemayaman waktu abadi
ShangRi-La, susunan langit dan bumi
manis dan segar, pusat segala keelokan
dataran, segala keinginan menjadi bentuk
yang tak terhingga...
segala penjuru melangkah menujunya
tua-muda, besar-kecil, SEGALANYA!
Namun tidak bagi
Para pemenang arus,
Yang sekali kembali,
Yang tak kembali,
dan...
Peoni yang cantik mengugurkan daun bunganya,
Pedoman Sejarah mencari bentuk
dan... memadamkan segala bentuk
mengapa?
tidak ada apa-apa
Senin, 06 Oktober 2008
melodi biru
peoni tak menabur
hati ini melembur
kedalam layar kekuningan
disana ingatan dikenang
mungkin rembulan membisu
karena tahu tak mungkin bersama
bagai condor dan pari
hanya ditakdirkan saling melirik
mengapa?
dari kertas kosong
lukisan yang indah
gadis bermata berlian
bergigi mutiara
dengan rambut hitam legam
berkulit sutra
begitu memabukan
bahkan
sang pelukis pun
konon jatuh cinta
mengapa?
Minggu, 17 Agustus 2008
At Wind Divergent
all changes...
everything changes...
peoples changes...
all memory will gone forever.
Sabtu, 02 Agustus 2008
KunLun Shan
KunLun sering disebut sebagai gunung legendaris, konon disana terdapat liang roh dari para orang teratas di dunia. Berbatasan dengan negeri impian Shang-Ri-La. Namun jalan menuju KunLun harus ditempuh bukan dengan menghabiskan tenaga saja, kekuatan mental juga harus kuat. Konon hanya sedikit sekali orang yang bisa mencapai KunLun.
KunLun disini bukanlah himalaya, KunLun yang dimaksud adalah gunung tinggi yang melayang di atas langit. Didalamnya terdapat berbagai binatang dengan kemampuan tinggi. Bahkan ada yang berkata, bila taman eden adalah surga. KunLun adalah Surga teratas, bahkan surga tingkat tujuh pun tidak mampu menandinginya kebesarannya. Hanya sedikit literatur yang membahas KunLun Shan (mengacu pada gunung tertinggi dilangit). Dan kebanyakan berasal dari dinasti Tang, dinasti tertua di China (FengShui, BaKua ditemukan dari dinasti tersebut).
Sangat sedikit orang yang tahun mengenai hal ini. Sebab konon perlu takdir khusus untuk mengetahuinya, dan meyakininya. Apakah anda termasuk?
Minggu, 15 Juni 2008
Kerikil dan Mentega
"Mengapa engkau menangis, hai anak muda?"
"Kemarin ayah saya yang sudah tua meninggal dunia."
"Ya, apa yang bisa dilakukan? Bila dia telah meninggal, menangis tidak dapat membuatnya hidup kembali."
"Ya, hal itu saya paham. Menangis tidak akan membuat ayah saya kembali. Tetapi saya datang kemari dengan satu permohonan. Saya mohon anda melakukan sesuatu untuk ayah saya yang telah meninggal itu."
"Eh? Apa yang dapat saya lakukan untuk ayahmu yang sudah meninggal?"
"Lakukanlah sesuatu, anda adalah orang yang memiliki kekuatan. Anda pasti dapat melakukannya. Semua pendeta, pemohon ampun, dan peminta sedekah toh melakukan segala macam upacara dan ritual untuk membantu yang sudah meninggal. Begitu disini dilakukan ritual, pintu gerbang kerajaan surga akan terbuka. Lalu orang yang sudah meninggal itu diizinkan masuk. Dia memperoleh visa masuk. Sedangkan anda adalah orang yang sangat sakti! Jika anda melakukan ritual untuk ayah saya, beliau tidak akan cuma mendapat visa masuk, beliau akan terjamin bisa tinggal disana selama-lamanya. Beliau akan mendapatkan Green Card! Tolonglah, lakukan sesuatu untuknya!"
Pemuda malang itu amat dipenuhi rasa duka sehingga dia tidak dapat mengikuti argumentasi yang masuk akal. Guruku harus mengunakan cara lain untuk membuatnya paham. Maka beliau berkata: "Baiklah, Pergilah ke pasar dan belilah dua pot dari tanah." Si pemuda sangat gembira karena pikirnya guru telah setuju untuk melakukan ritual untukn ayahnya. Dia berlari ke pasar dan kembali ke dengan dua pot. "Baik," kata guru. "Isilah satu pot dengan mentega." Si pemuda melakukannya. "Isilah satunya dengan kerikil." Ini pun dilakukannya.
"Sekarang tutuplah mulut pot dan segellah dengan baik. Lalu taruh keduanya di kolam sana." Si pemuda melakukannya, dan kedua pot itu tenggelam ke dasar kolam. "Sekarang." kata guru, "ambil satu tongkat yang besar. Hantamlah pot-pot itu sampai pecah." Si pemuda merasa sangat gembira. Pikirnya, guru sedang melakukan suatu ritual untuk ayahnya.
Dengan tongkat seperti nasihat guru, pemuda itu menghantam ke dua pot itu kuat-kuat sampai pecah. Dengan segera, mentega yang diisikan ke dalam satu pot langsung muncul ke permukaaan dan mengapung di air. Kerikil di pot satnya terserak keluar tetapi tetap berada di dasar kolam. Kemudian guru berkata, "Nah, orang muda, sudah kulakukan sampai disini. Sekarang panggilah semua pendeta dan pencipta mukjizat dan suruhlah mereka mulai membaca doa untuk memohon: 'Oh, kerikil, naiklah, naiklah! Oh, mentega, turunlah, turunlah!' Akan saya lihat apa yang akan terjadi"
"Oh, anda pasti bergurau! Bagaimana itu mungkin? Kerikil lebih berat daripada air, jadi pasti tetap berada di dasar. Kerikil tidak dapat muncul ke atas. Itulah hukum alam! Mentega lebih ringan daripada air, jadi pasti tetap berada di permukaan. Mentega tidak dapat turun. Itulah hukum alam!"
"Anak muda, engaku sudah tahu banyak tentang hukum alam, tetapi belum memahami hukum alam ini: jika sepanjang hidupnya ayahmu melakukan perbuatan-perbuatan yang berat seperti kerikil, dia pasti turun; siapa yang bisa menaikkannya? Dan jika semua tindakannya ringan seperti mentenga, dia pasti naik; siapa yang bisa menariknya turun?"
Semakin dini kita memahami hukum alam dan mulai hidup sesuai hukum itu, semakin cepat kita keluar dari penderitaan kita.
